Wednesday, 6 November 2013

Nash Al-Quran dan Hadits Yang Samar Maksudnya




SIKAP ULAMA SALAF DAN KHALAF TERHADAP NASH AL-QUR'AN DAN HADITS YANG SAMAR MAKSUDNYA

و كل نص أوهم التشبيها ### أوله أو فوض و رم تنزيها

Artinya: 

“Dan setiap nash yang dapat menimbulkan kesalahpahaman tentang penyerupaan Allah dengan makhluk, maka lakukanlah ta’wil atau tafwid dan hendaklah engkau bertujuan memahabersihkan Allah dari sesuatu yang tidak pantas bagi-Nya”.

{ Bait No. 40 dari Kitab Ilmu Tauhid "Hasyiyah Al-Imam A-Baijuri 'ala Jawharah At-Tauhid" karya Imam Ali Jum'ah, halaman 156, cetakan "Darussalam", Mesir.}

PENJELASAN BAIT NO. 40:


Dalam menyikapi setiap nash dari Al-Qur’an dan Hadits yang dikuatirkan dapat menimbulkan kesalahpaaman tentang penyerupaan Allah dengan makhluk, maka para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah berijtihad melakukan ta’wil. Hanya saja ulama salaf (1-300 H.) dengan “Madzhab as-Salaf (مذهب السلف) atau “Thariq as-Salaf (طريق السلف)”-nya berijtihad melakukan “Ta’wil Ijmali (Ta’wil Global)”, yaitu dengan cara menggunakan lafadz nash secara dzohirnya lafadz namun tidak mengi’tiqadkan Allah serupa dengan makhluk. Kemudian, tujuan yang dimaksud oleh nash tersebut diserahkan langsung kepada Allah SWT semata (tafwid). Contoh: 
الرحمن على العرش استوى
Ulama Salaf mengatakan: Istiwa’ tidak kami ketahui maksudnya.

Sedangkan, ulama khalaf dengan “Madzhab al-Khalaf (مذهب الخلف) atau “Thariq al-Khalaf (طريق الخلف)”-nya berijtihad melakukan “Ta’wil Tafshili”, yaitu dengan cara menjelaskan makna yang dimaksud oleh nash Al-Qur’an dan Hadits yang samar tersebut, sehingga jelas maksudnya dan tidak menyerupakan Allah dengan makhluk. Dengan demikian, umat Islam akan selamat dari kesalahpahaman dalam rmemahami nash tersebut. Contoh: 
الرحمن على العرش استوى

Ulama Khalaf mengatakan: Yang dimaksud dengan firman Allah ta’ala itu adalah “Al-Istila’ (artinya: Menguasai)” dan “Al-Mulku (artinya: Merajai)”.

Jalan ta'wil ini sesuai dengan Firman Allah dalam Surat Ali 'Imran {3}: 7 sebagai berikut:

هُوَ ٱلَّذِيۤ أَنزَلَ عَلَيْكَ ٱلْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ ٱلْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ في قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ٱبْتِغَاءَ ٱلْفِتْنَةِ وَٱبْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ ٱللَّهُ وَٱلرَّاسِخُونَ فِي ٱلْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُواْ ٱلأَلْبَابِ

ARTINYA:

"Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat[183], itulah pokok-pokok isi Al qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat[184]. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal."


Dengan demikian, jalan yang ditempuh oleh ulama salaf dan ulama khalaf ini kedua-duanya benar. Namun, yang paling unggul adalah jalan yang ditempuh oleh ulama khalaf, dikarenakan perkembangan pemikiran umat Islam semakin ke depannya semakin kritis. sehingga dikuatirkan nantinya umat Islam akan salah memahami nash tersebut yang masih samar maksudnya, seandainya tidak dita’wil dengan “Ta’wil Tafshili”.

Allah swt Tidak Butuh Tempat, Arah, Zaman, Warna, Gerakan & Diam


Di dalam kitab "Kifayatul 'Awam" karya Syeikh Ibrahim Al-Baijuri halaman 60 diterangkan sebagai berikut:

و الرابعة المماثلة ضد المخالفة فيستحيل عليه تعالي أن يماثل الحوادث في شيء مما اتصفوا به فلا يمر عليه تعالي زمان و ليس له مكان و ليس له حركة و لا سكون و لا يتصف بألوان و لا بجهة فلا يقال فوق الجرم و لا عن يمين الجرم و ليس له تعالي جهة فلا يقال اني تحت الله فقول العامة اني تحت ربي و ان ربي فوقي كلام منكر يخاف علي من يعتقده الكفر

Artinya:

"Dan sifat mustahil yang keempat bagi Allah swt adalah sifat "Al-Mumatsalah (المماثلة)". Artnya: Menyerupai makhluk, lawan dari sifat yang wajib bagi Allah swt yaitu sifat "Al-Mukhalafah (المخالفة)". Artinya: Allah swt berbeda dengan makhluk.

Maka mustahil bagi Allah swt menyerupai makhluk pada sesuatu yang disifatinya. Olehkarena itu, Allah tidak dilewati (diliputi) oleh zaman (waktu), tempat, gerakan, dan diam, dan tidak pula disifati oleh warna-warna dan arah. Maka tidak boleh dikatakan bahwa Allah itu berada di atas jirim (bentuk makhluk seperti manusia) dan berada di sebelah kanan jirim. Begitupula, Allah tidak mempunyai arah. Maka tidak boleh dikatakan bahwa sesungguhnya aku berada di bawah Allah.

Adapun ucapan 'awam (orang-orang yang tidak tahu tentang ilmu tauhid) mengatakan bawa sesungguhnya aku berada di bawah Tuhanku dan sesungguhnya Tuhanku berada di atasku merupakan kalam munkar, yang dikuatirkan dapat menimbulkan kekufuran bagi orang yang mengi'tiqadkan atau meyakininya".

Tambahan:

Dalil sifat 'Al-Mukhalafah (Allah swt berbeda dengan makhluk") Al-Qur'an surat Asy-Syuraa ayat 11:

فَاطِرُ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ‌ۚ جَعَلَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٲجً۬ا وَمِنَ ٱلۡأَنۡعَـٰمِ أَزۡوَٲجً۬ا‌ۖ يَذۡرَؤُكُمۡ فِيهِ‌ۚ لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَىۡءٌ۬‌ۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ

Artinya:


"(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat".

Hukum Mengi'tiqadkan Allah swt Seperti Makhluk


Kita jangan sembarangan menghukumi orang dengan hukuman murtad, kafir, dan sejenisnya sebelum kita menguasai permasalahan hukum tersebut sesuai dengan apa yang dipermasalahkan. Hal itu dilarang keras dalam ajaran Islam. 

Di dalam kitab "Hasyiyah ad-Dasuqi 'ala Ummil Barahin" halaman 109 diterangkan tentang orang yang mengi'tiqadkan atau meyakinkan bahwa Allah swt disamakan seperti makhluk (lihat tulisan yang ada di foto baris ke-9 - 12 !) sebagai berikut:

و اعلم أن من اعتقد أن الله جسم كالأجسام فهو كافر و من المعتقد أنه جسم لا كالأجسام فهو عاص غير كافر و الاعتقاد الحق اعتقاد أن الله ليس بجسم و لا صفة و لا يعلم ذاته الا هو

Artinya: "Dan ketahuilah oleh kalian bahwa sesungguhnya:

1. Barangsiapa mengi'tiqadkan (meyakinkan) bahwa Allah swt seperti jisim (bentuk suatu makhluk) sebagimana jisim-jisim lainnya, maka orang tersebut hukumnya "Kafir (orang yang kufur dalam i'tiqad, bukan berarti keluar dari Islam pindah ke agama lain)."


2. Orang yang mengi'tiqadkan (meyakinkan) bahwa Allah swt seperti jisim (bentuk suatu makhluk), tapi tidak disamakan sebagaimana jisim-jisim (bentuk-bentuk makhluk) lainnya, maka orang tersebut hukumnya "'Aashin" atau orang yang telah berbuat durhaka kepada Allah swt, dan bukanlah orang "kafir (orang yang kufur dalam i'tiqad)." 

3. I'tiqad yang benar adalah i'tiqad yang menyatakan bahwa sesungguhnya Allah swt itu bukanlah seperti jisim (bentuk suatu makhluk) dan bukan pula berupa sifat. Tidak ada yang dapat mengetahui Dzat Allah swt kecuali Dia."

Dengan demikian, berdasarkan keterangan tauhid di kitab "Hasiyah ad-Dasuqi 'ala Ummil Barahin" tersebut di atas, ucapan yang dikeluarkan oleh seseorang dalam kaitannya dengan ilmu tauhid, tergantung dari i'tiqadnya, apakah ucapannya itu di'itiqadkan atau tidak. Hal ini diperkuat dengan keterangan yang diungkapkan Syeikh Al-Akhthal dalam sya'irnya: 

ان الكلام لفى الفؤاد و انما #### جعل اللسان على الفؤاد دليلا

Sunday, 3 November 2013

KITAB "AL-GHUNYAH" KARYA SYEIKH ABDUL QADIR SUDAH DIPALSU WAHABI

 

 

 

Kitab "Al-Ghunyah" karya Syeikh Abdul Qadir al-Jilani (wafat 561 H), cetakan "Darul Kutub al-'Ilmiyyah", Beirut - Libanon ini sudah ditahrif / dirubah / dipalsu isinya oleh Wahabi / Salafi.

Di dalam kitab ini di bagian Bab Aqidah halaman 125 dikatakan bahwa "Al-Istiwa' (bersemayam) merupakan sebagian dari sifat-sifat Dzat Allah SWT. Dengan demikian, sudah selayaknya bagi Allah mempunyai tangan, wajah, mata, pendengaran, dan penglihatan. Padahal aqidah ini adalah aqidah yang dianut oleh kaum Mujassimah (golongan yang menyerupakan Allah SWT dengan makhluk), yang ajarannya sudah keluar dari ajaran Ahlussunnah wal Jama'ah, yang beraqidah Asy'ariyah dan Maturidiyah.

AL-FIQHUL AKBAR, KITAB AQIDAH IMAM SYAFI'I


Al-Fiqhu Al-Akbar
Nama kitab: Al-Kawkab Al-Azhar Syarah Al-Fiqhu Al-Akbar.
Karya: Imam Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i.
Masalah: Tauhid / Aqidah Imam Syafi'i.
Cetakan: Darul Fikr, Beirut - Libanon).


Berkata Imam Syafi’I, semoga Allah ta’ala merahmatinya: (Maka seandainya dikatakan: Tidakkkah Allah ta’ala berfirman:
الرجمن على العرش استوى
Dikatakan bahwa ayat ini bagian dari ayat Mustasyabbihat (ayat yang samar untuk mengetahui maksud rdan tujuannya dan perlu penjelasan dari pakar tafsir Al-Qur’an). Adapun jawaban yang kami pilih dari ayat mutasyabbihat dan keasamaan-kesamaannya ini berlaku bagi orang yang tidak mau mendalami ilmunya agar melewatinya seperti apa adanya ayat dan tidak perlu membahas dan membicarakan ayat ini. Karena, hal ini tidak akan aman untuk terjatuh ke dalam lumpur “Tasybih”, yakni menyamakan Allah dengan makhluk apabila bukan dari golongan orang-orang yang dalam ilmunya.

Dengan demikian, wajib bagi setiap muslim yang mukallaf untuk mengi'tiqadkan atau meyakinkan perkara di dalam sifat-sifat Dzat Maha Pencipta (Allah) ta’ala seperti apa yang telah kami terangkan, di mana Allah ta’ala tidak diliputi oleh tempat dan tidak berlaku zaman bagi-Nya. Juga, Dia maha dibersihkan dari segala batasan, dan ujung dan tidak butuh kepada tempat dan arah. Dia selamat dari segala bentuk kerusakan dan keserupaan.
Olehkarena dengan adanya makna ayat ini, maka Imam Malik rahimahullah melarang kepada seseorang untuk menanyakan tentang ayat ini. Beliau berkata: Al-Istiwa’ sesuatu yang sudah disebut. Kaifiat (pertingkah) sesuatu yang samar. Iman dengan ayat ini wajib. Dan, bertanya tentang ayat ini bid’ah.
Kemudian, beliau berkata: Seandainya engkau kembali menanyakan kepada semitsal ayat ini, maka aku memerintahkan supaya engkau menepuk lehermu. Semoga Allah melindungi kita dan kalian untuk tidak menyamakan Allah dengan makhluk !

{Keterangan dari kitab "Al-Kawkab Al-Azhar Syarah Al-Fiqhu Al-Akbar", karya Imam Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i, halaman 68, cetakan "Darul Fikr", Beirut - Libanon)

Celalah diri sendiri sebelum mencela orang lain !

Celalah diri sendiri sebelum mencela orang lain ! Karena, orang yang suka mencela orang lain (termasuk mencela amalan para ulama) dan tidak mencela diri sendiri termasuk orang yang celaka dan berkelakuan seperti Iblis.

Iblis celaka karena lima perkara:
1. Tidak mengakui dosa-dosanya,
2. Tidak menyesali atas dosa-dosanya,
3. Tidak mencela dirinya,
4. Tidak segera bertaubat,
5. Putus asa dari rahmat Allah ta'ala.

{Keterangan dari kitab "Tanbih al-Mughtarrin (Peringatan bagi Orang-orang yang Tertipu)", karya Imam Abdul Wahab asy-Sya'rani, halaman 49, cetakan "Dar al-Kutub al-Islamiyyah", Kalibata - Jakarta Selatan}.

Friday, 1 November 2013

Tidak ada istilah "Manhaj Salaf"


Tidak ada istilah "Manhaj Salaf" / منهج السلف di dalam literatur kitab-kitab klasik karya ulama-ulama Ahlussunnah wal Jama'ah, kecuali di kitab-kitab atau buku-buku terjemahan Wahabi / Salafi.

Ada juga istilah:

1. "Madzhab Salaf" / مذهب السلف, sebagaimana tercantum di dalam kitab "Tadzkiratul Huffadz", karya Imam adz-Dzahabi (wafat hari Jum'at pagi, 15 Rabi'ul Akhir 576 H / 8 September 1180 M), jilid 2 juz 3 halaman 225, cetakan "Darul Kutub al-'Ilmiyyah". Beirut Libanon.
Nama lengkap beliau adalah: Al-Imam Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Utsman adz-Dzahabi.

2. "Thariq as-Salaf" / طريق السلف, sebagaimana tercantum di dalam kitab "Tanbihul Mughtarrin", karya Syaikhul Islam Imam Abdul Wahab asy-Sya'rani, halaman 20, cetakan "Darul Kutub al-Islamiyyah", Kalibata - Jakarta Selatan.

3. "Madzhab A'immati as-Salaf" / مذهب أئمة السلف. Lihat kitab "Tadzkiratul Huffadz", karya Imam adz-Dzahabi !

4. "Madzhab as-Salaf" / مذهب السلف . Lihat kitab "Al-'Aqidah Al-Islamiyyah 'inda Al-Fuqaha Al-Arba'ah" karya Abul Yazid Abu Zaed Al-'Ajami, halaman 90, cetakan "Darus Salam", Mesir, dengan keterangan sebagai berikut:
الأعتقلد على مذهب السلف أهل السنة و الجماعة

Pada kitab yang sama kalimat "Madzhab as-Salaf" bisa pula dilihat di halaman 106 & 280.

5. "Madzhab as-Salaf" / مذهب السلف . Lihat kitab "Thabaqat asy-Syafi'iyyah al-Kubra", karya Imam Tajuddin as-Subki (727-771 H), jilid 3 halaman 367 dan jilid 9 halaman 35 !

6. Dan sebagainya.

PERHATIAN:

Seandainya ada istilah "Manhaj Salaf" di kitab-kitab klasik karya Ulama Ahlussunnah wal Jama'ah yang terangkum dalam Empat Imam Madzhab (Maliki, Syafi'i, Hanafi, dan Hanbali), silahkan di-share di sini !

Sebagai pembuktiannya, silahkan cari di kitab-kitab klasik lainnya, seperti:

1. Kitab "Hilyatul Awliya' (10 jilid),
2. Kitab "Ath-Thabaqat asy-Syafi'iyyah al-Kubra (10 jilid)
3. Tarikh Baghdad (14 jilid),
4. Al-Bidayah wan Nihayah (8 jilid), karya Imam Ibnu Katsir,
5. Dsb.