Showing posts with label Bedah Kitab. Show all posts
Showing posts with label Bedah Kitab. Show all posts

Friday, 8 November 2013

MAYAT MEMBACA AL-QUR'AN DI DALAM KUBURAN

PERPUSTAKAAN PRIBADI "MUHAMMAD THOBARY SYADZILY AL-BANTANI"
Nama kitab: Syarhu ash-Shudur bi Syarhi Hal al-Mawta wal Qubur
Karya: Imam Jalaluddin as-Suyuthi
Tebal: 312 halaman
Cetakan: Darul Fikr, Beirut – Libanon

Pada zaman Nabi saw ada mayat dari golongan waliyullah membaca Al-Qur’an di dalam kuburannya sendiri. Hal itu diterangkan di dalam kitab “Syarhu ash-Shudur bi Syarhi Hali al-Mawta wal Qubur”, karya Al-Muhaddits al-Imam Jalaluddin as-Suyuthi, halaman 170-171, cetakan “Darul Fikr”, Beirut – Libanon (lihat tulisan di foto !) dengan keterangan sebagai berikut:
Artinya:
=====
“Imam Tirmidzi telah mentakhrij hadits dan menghasankannya. Begitupula halnya dengan Imam Hakim dan Imam Baihaqi. Hadits tersebut dari Ibnu Abbas RA, beliau berkata: Sebagian sahabat Nabi saw pernah mendirikan sebuah kemah di atas kuburan. Mereka tidak menyangka bahwa tanah itu adalah kuburan. Tiba-tiba di dalam kuburan itu terdengar ada orang sedang membaca surat “Al-Mulk” hingga selesai. Kemudian, sahabat mendatangi Nabi saw dan memberitahukannya kepada beliau. Lalu beliau bersabda: Surat Al-Mulk itu adalah Munjiyah (penyelamat) dan Mani’ah (penghalang), yang dapat menyelamatkannya dari siksa kubur”.


Di dalam kitab “Ar-Ruh” Abul Qasim as-Sa'di berkata: Ini merupakan pembenaran dari Nabi saw bahwa seorang mayit juga membaca Al-Qur’an di dalam kuburnya. Sementara itu Abdullah juga pernah memberitahukannya tentang hal itu dan Rasulullah saw pun membenarkannya.


Imam Kamaluddin bin az-Zamlakani berkata di dalam kitab “Al-‘Amal al-Maqbul fi Ziyarah ar-Rasul”: Hadits ini secra jelas menunjukkan bahwa seorang mayat membaca surat Al-Mulk di dalam kuburnya. Di dalam riwayat ini disebutkan tentang pemuliaan Allah kepada sebagian wali-walinya dengan membaca surat “Al-Mulk” dan menjalankan shalat di dalam kuburnya. Karena, ketika hidupnya dulu mereka pernah berdo’a memohon kepada Allah akan hal itu. Jika Allah swt telah memuliakan para wali-Nya dengan menetapkan mereka berbuat ta’at dan beribadah di alam kubur, maka sudah barangtentu para Nabi lebih berhak untuk mendapatkan ketetapan itu.


Berkata Al-Hafizh Zainuddin Ibnu Rajab di dalam kitab “Ahwal al-Qubur”: Allah telah memuliakan sebagian penghuni alam barzakh dengan berbuat amal shaleh di dalamnya, meskipun mereka dengan hal itu tidak mendapatkan pahala, karena amalnya telah terputus oleh kematian. Namun, amalnya itu masih tetap berlaku baginya. Dengan itu, dia dapat bersenang-senang dalam berdzikir kepada Allah dan berbuat ketaatan kepada-Nya, sebagaimana yang dirasakan oleh para malaikat dan penghuni surge di surga; meskipun dengan hal itu mereka tidak mendapatkan pahala. Karena, dzikir dan ketaatan itu sendiri merupakan ketaatan yang lebih besar daripada seluruh kenikmatan dan keledzatan penghuni dunia. Betapa nikmatnya orang-orang yang telah memperoleh nikmat bisa melakukan seperti itu denga berdzikr dan taat kepada-Nya.


Abul Hasan bin al-Barra’ meriwayatkan di dalam kitab “Ar-Rawdhah”, dari Abdullah bin Muhammad bin Manshur, telah menceritakan kepada saya Ibrahim al-Haffar, dia berkata: Saya menggali kuburan . kemudian nampak batu-bata. Lalu, saya mencium bau minyak misik ketika batu-bata itu terbuka. Saat itu juga seorang Syeikh sedang duduk di dalam kuburannya sedang membaca Al-Qur’an.
Ibnu Rajab berkata: Telah menceritakan kepada saya Al-Muhaaits (Pakar Hadits) Abul Hajjaj Yusuf bin Muhammad as-Surramarri, telah menceritakan guru kami Abul Hasan Ali bin al-Husain as-Samiri, seorang khatib di Samira’, seorang muslim yang shaleh memperlihatkan suatu tempat dari beberapa kuburan yang tidak pernah sepi. Lalu dia berkata: Dari tempat ini kita masih akan terus mendengar bacaan surat Al-Mulk

Sunday, 3 November 2013

KITAB "AL-GHUNYAH" KARYA SYEIKH ABDUL QADIR SUDAH DIPALSU WAHABI

 

 

 

Kitab "Al-Ghunyah" karya Syeikh Abdul Qadir al-Jilani (wafat 561 H), cetakan "Darul Kutub al-'Ilmiyyah", Beirut - Libanon ini sudah ditahrif / dirubah / dipalsu isinya oleh Wahabi / Salafi.

Di dalam kitab ini di bagian Bab Aqidah halaman 125 dikatakan bahwa "Al-Istiwa' (bersemayam) merupakan sebagian dari sifat-sifat Dzat Allah SWT. Dengan demikian, sudah selayaknya bagi Allah mempunyai tangan, wajah, mata, pendengaran, dan penglihatan. Padahal aqidah ini adalah aqidah yang dianut oleh kaum Mujassimah (golongan yang menyerupakan Allah SWT dengan makhluk), yang ajarannya sudah keluar dari ajaran Ahlussunnah wal Jama'ah, yang beraqidah Asy'ariyah dan Maturidiyah.

Friday, 20 September 2013

Kitab Hasyiah Raddul Mukhtar : Bidah Ada Lima Bagian



Di dalam kitab "Hasyiah Raddul Mukhtar (حاشية رد المختار) karya Syeikh Muhammad Amin / Ibnu Abidin jilid 1 halaman 590 cetakan kedua "Dar el-Fikr" tahun 1386 H / 1966 M disebutkan bahwa bid'ah terbagi kepada lima bagian, yaitu:

1. Bid'ah Haram (contoh: meyakinkan bahwa Allah swt berbentuk jisim seperti jisim-jisim yang terdapat pada makhluk).

2. Bid'ah Wajib. Contoh: menegakkan dalil-dalil untuk membantah golongan-golongan yang sesat, belajar ilmu nahwu supaya dapat memahami Al-Qur'an dan Hadits Nabi saw.

3. Bid'ah Sunnah. Contoh: memperbaharui upamanya pesantren, madrasah, dan setiap kebagusan yang tidak ada di zaman permulaan Islam.

4. Bid'ah Makruh. Contoh: menghiasi mesjid.

5. Bid'ah Mubah. Contoh: membuat makanan & minuman yang enak, dan mengenakan pakaian yang bagus.


Tuesday, 17 September 2013

Ciri-ciri orang shaleh ada tiga perkara


{Kitab "Tanbihul Mughtarrin" karya Syaikhul Islam al-Muhaddits al-Ghauts asy-Syeikh Abdul Wahab asy-Sya'rani, halaman 256, cetakan "Darul Kutub al-Islamiyyah", Kalibata - Jakarta Selatan}.

Kata Sayyidina Ali RA: Ciri-ciri orang shaleh ada tiga perkara, yaitu:
===========================================

1. Kuning pucat warna kulitnya, sebab sering tidak tidur di waktu malam hari (dalam istilah taswuf namanya "as-Sahar") karena taqarrub kepada Allah dengan memperbanyak melaksanakan shalat-shalat sunnah dan ibadah-ibadah lainnya.

2. Rabun kedua matanya, karena banyak menangis dan takut kepada Allah SWT.

3. Pecah-pecah kedua belah bibirnya, karena sering menjalankan puasa-puasa sunnah.

Saturday, 14 September 2013

Nabi Khidir dan Nabi Ilyas


Di dalam kitab "Al-Asror Rabbaniyyah wal Fuyudhatur Rahmaniyyah" karya Syeikh Ahmad Shawi Al-Maliki halaman 5 diterangkan yang artinya sebagai berikut:

Telah berkata guru dari guru-guru kami, Sayyid Mushtofa Al-Bakri: Telah berkata Al-'Ala'i di dalam kitab tafsirnya bahwa sesungguhnya Nabi Khidir dan Nabi Ilyas as hidup kekal sampai hari kiamat. Nabi Khidir as berkeliling di sekitar lautan sambil memberi petunjuk kepada orang-orang yang tersesat di lautan.

Sedangkan, Nabi Ilyas berkeliling di sekitar gunung-gunung sambil memberi petunjuk kepada orang-orang yang tersesat di gunung-gunung. Inilah kebiasaan mereka di waktu siang hari. Sedangkan di waktu malam hari mereka berkumpul di bukit Ya'juj wa Ma'luj (يأجوج و مأجوج) sambil mereka menjaganya.

Dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra bahwa Nabi Khidir dan Nabi Ilyas berjumpa pada tiap-tiap tahun di Mina (Saudi Arabia). Mereka saling mencukur rambutnya secara bergantian. Kemudian mereka berpisah dengan mengucapkan kalimat:

بسم الله ما شاء الله لا يسوق الخير الا الله
بسم الله ما شاء الله لا يصرف السو ء الا الله
بسم الله ما شاء الله ما كان من نعمة فمن الله
بسم الله ما شاء الله لا حول و لا قوة الا بالله

Maka barangsiapa mengucapkan kalimat-kalimat ini pada waktu pagi dan sore hari, maka ia akan aman dari tenggelam, kebakaran, pencurian, syaitan, sultan, ular, dan kalajengking.

Dan telah dikeluarkan oleh Ibnu 'Asakir bahwa sesungguhnya Nabi Khidir dan Nabi Ilyas itu berpuasa Ramadhan di Baitul Maqdis (Palestina) dan mereka melakukan ibadah haji pada tiap-tiap tahun. Mereka minum air zamzam dengan sekali tegukan, yang mencukupkan mereka seperti minuman dari Kabil.

Sebagian ulama menceritakan bahwa sesungguhnya Nabi Khidir itu putera Nabi Adam as yang diciptakan dari tulang iganya. Menurut segelintir kecil ulama lagi beliau putera Halqiya. Ada yang mengatakan putera Kabil bin Adam. Adapula yang mengatakan beliau itu cucunya Nabi Harun as, yaitu putera bibinya Iskandar Dzul Qarnain. Dan Perdana Menterinya benar-benar aneh mengatakan bahwa Nabi Khidir itu dari golongan malaikat.

Sedangkan, menurut pendapat ulama yang paling shohih adalah bahwa Khidir itu adalah seorang Nabi. Menurut ulama jumhur beliau itu masih hidup dan beliau tidak akan pernah meninggal terkecuali pada hari kiamat apabila Al-Qur'an telah diangkat dan Dajjal telah membunuhnya. Kemudian, Allah menghidupkannya kembali. Sesungguhnya, beliau itu masa hidupnya panjang sekali. Karena, beliau meminum air kehidupan.


Wafatnya Imam Al Ghazali (Hujjatul Islam)


Di dalam kitab "Thabaqat asy-Syafi'iyah al-Kubra" (طبقات الشافعية الكبرى) karya Syeikh Tajuddin As-Subqi (727 H - 771 H / 1327 M - 1370 M) cetakan Dar Ihya al-Kutub al-'Arabiyah jilid 6 halaman 201 diterangkan sebagai berikut:

و كان وفاته , قدس الله روحه , بطوس يوم الاثنين رابع عشر جمادى الأخرة سنة خمس و خمسمائة
و مشهده بها يزار بمقبرة الطابران
قال أبو الفرج بن الجوزي فى كتاب "الثبات عند الممات" : علي بالكفن , فأخذه و قبله ووضعه على عينيه , و قال : سمعا و طاعة للدخول على الملك . ثم مد رجليه , و استقبل القبلة , و مات قبل الاسفار , قدس الله روحه

Artinya:

Imam Ghazali wafat, semoga Allah mensucikan rohnya, di kota Thus (Persia) pada hari Senin tanggal 14 Rabi'ul Akhir tahun 505 H (1112 M) dan makamnya diziarahi orang di pemakaman Thabaran.
Abul Faraj bin Al-Jauzi berkata di dalam kitabnya "Ats-Tsabat 'Inda al-Mamat": Berkata Ahmad, saudara laki-lakinya dari Imam Ghazali: Ketika hari Senin pada waktu subuh, saudaraku Abu Hamid berwudhu dan shalat dan ia berkata: Tetapkanlah aku dengan kain kapan !! Kemudian ia (Imam Ghazali) mengambil kain kapan itu dan mencium dan meletakkannya di atas kedua matanya sambil berkata: Sesungguhnya aku mendengar dan ta'at untuk masuk kepada Sang Raja (Allah swt). Kemudian Imam Ghazali menjulurkan kedua kakinya dan menghadap kiblat. Setelah itu ia wafat. Semoga Allah mensucikan rohnya !!.


KITAB-KITAB KARANGAN IMAM GHAZALI:
1. احياء علوم الدين / Ihya 'Ulumuddin (4 jilid besar)
2. الأربعين / Al-Arba'in
3. الأسماء الحسنى / Al-Asma' ul Husna
4. المستصفى فى اصول الفقه / Al-Mustashfa fii Ushulil Fiqhi
5. المنخول فى أصول الفقه / Al-Mankhul fii Ushulil Fiqhi
6. بداية الهداية و المأخذ فى الخلافيات / Bidayatul Hidayah wal Ma'akhidzi fil Khilafiyyat
7. تحسين المأخذ / Tahsinul Ma'akhidz
8. كيمياء السعادة / Kimia Sa'adah (terjemahan: Kimia Kebahagiaan)
9. المنقذ من الضلال / Al-Munqidz minadh Dhalal (terj: Penyelamat dari Kesesatan)
10. اللباب المنتخل / Al-Lubabul Muntakhal
11. شفاء الغليل فى بيان مسالك التعليل / Syifa'ul Ghalil fii Bayani Masalikit Ta'lil
12. الاقتصاد فى الاعتقاد / Al-Iqtishad fil I'tiqad
13. معيار النظر / Mi'yarun Nazhari
14. محك النظر / Mahakkun Nazhari
15. بيان القولين للشافعي / Bayanul Qaulaini lisy Syafi'iyyi
16. مشكاة الأنوار / Misykatul Anwar
17. المستظهرى فى الرد على الباطنية / Al-Mustazhhiri fir Raddi 'alal Bathiniyyah
18. تهافت الفلاسفة / Tahafutul Falasifah (terj: Kerancuan Filsafat)
19. المقاصد فى بيان اعتقاد الأوائل / Al-Maqashidu fii Bayani' Tiqadil Awa'il
20. الجام العوام فى علم الكلام / Iljamul 'Awam fii 'Ilmil Kalam
21. الغاية القصوى / Al-Ghayatul Qushwa
22. جواهر القرأن / Jawahirul Qur'an (terjemah: Mutiara-mutiara Al-Qur'an)
23. بيان فضائح الامامية / Bayanu Fadha'ihil Imamiyyah
24. غور الدور فى المسألة السريجية / Ghaurad Dauri fil Mas'alatis Suraijiyyah
25. كشف علوم الأخرة / Kasyfu 'Ulumil Akhirah (terjemah: Menyingkap Ilmu-ilmu Akherat)
26. الرسالة القدسية / Ar-Risalatul Qudsiyyah
27. الفتاوى / Al-Fatawi (terjemah: Fatwa-fatwa)
28. ميزان العمل / Mizanul 'Amal (terjemah: Timbangan Amal)
29. قواصم الباطنية / Qawashimul Bathiniyyah
30. حقيقة الروح / Haqiqatur Ruh (terjenah: Hakekat Ruh)
31. كتاب أسرار معاملات الدين / Kitabu Asrari Mu'amalatiddin (terjemah: Kitab Rahasia2 Transaksi Agama)
32. عقيدة المصباح / Aqidatul Mishbah (terjemah: Lampu Aqidah)
33. المنهج الأعلى / Al-Manhajul A'la (terjemah: Jalan Yang Luhur)
34. أخلاق الأنوار / Akhlaqul Anwar (terjenah: Lampu Cahaya-cahaya Ilahi)
35. المعراج / Al-Mi'raj
36. حجة الحق / Hujjatul Haq (terjemah: Argumentasi Kebenaran)
37. تنبيه الغافلين / Tanbihul Ghafilin (terjemah: Peringatan Bagi Orang2 Yang Lupa)
39. رسالة الأقطاب / Risalatul Aqthab (terjemah: Risalah Wali-wali Quthub)
40. مسلم السلاطين / Musallamus Salathin
41. القانون الكلي Artinya: Al-Qanunul Kulliyyu (terjemah: Undang-undang Universal)
42. القربة الى الله / Al-Qurbatu Ilallah (terj: Pendekatan Diri Kepada Allah)
43. مفصل القياس فى أصول الخلاف / Mufashshalul Qiyas fii Ushulil Khilaf
44. أسرار اتباع السنة / Asrarut Tiba'is Sunnah (terjemah: Rahasia2 Mengikuti Sunnah)
45. تلبيس ابليس / Talbisu Iblis (terjemah: Penyamaran Iblis)
46. البادى و الغايات / Al-Badi wal Ghayat
47. الأجوبة / Al-Ajwibah (terjemah: Jawaban-jawaban)
48. كتاب عجائب صنع الله / Kitabu 'Aja'ibi Sun'illah (terjemah: Kitab Keajaiban2 Ciptaan Allah)
49. رسالة الطير / Risalatut Thair (terjemah: Risalah Burung)
50. الرد على من طغى / Ar-Raddu 'ala Man Thagha (terjemah: Bantahan Terhadap Orang Yang Melampaui Batas)
51. الأوفاق الغرالى / Al-Awfaqul Ghazali.

ULAMA SALAF SERING NYARKUB

ULAMA SALAF SHALEH SERING BERZIARAH KE MAKAM-MAKAM KAUM MUSLIMIN


Di dalam kitab "Tanbihul Mughtarrin", karya Imam Abdul Wahab asy-Sya'rani, halaman 101-102, cetakan "Dar al-Kutub al-Islamiyyah", Kalibata - Jakarta Selatan disebutkan sebagai berikut:

Artinya:


"Di antara akhlak-akhlak ulama salaf shaleh, semoga Allah ta'ala meridhai mereka !, adalah mereka sering berziarah ke makam-makam kaum muslimin, karena mengamalkan hadits Nabi saw:

Artinya:


زوروا القبور فانها تذكركم الأخرة

(ZUURUL QUBUURA, FAINNAHA TUDZAKKIRUKUMUL AAKHIRATA).

"Ziarahlah kalian ke makam-makam kaum muslimin ! Karena, sesungguhnya ziarah itu mengingatkan kalian kepada akherat." (Hadits Shohih riwayat Abu Hurairah).

Bagaimana dengan orang-orang yang mengaku "Manhaj Salaf", tapi akhlak mereka bertentangan dengan akhlak-akhlak ulama salaf shaleh. Karena, mereka sering memvonis kepada orang-orang yang suka berziarah kubur dengan sebutan "Kuburiyyun (Golongan Penyembah Kuburan)"?

Padahal, ziarah itu bisa dijadikan sebagai "i'tibar (bahan pelajaran) bagi para peziarah, sehingga dapat mempunyai beberapa fungsi, di antaranya:

1. Dapat mengingatkan kepada akherat (kematian).
2. Dapat mencegah dari perbuatan-perbuatan maksiat.
3. Dapat melembutkan hati bagi orang yang berhati keras.
4. Dapat menghilangkan kegembiraan dunia, sehingga lupa dengan kehidupan akherat.
5. Dapat meringankan musibah (bencana).
6. Dapat menolak kotoran hati.
7. Dapat mengukuhkan hati, sehingga tidak terpengaruh dari ajakan-ajakan yang dapat menimbulkan dosa.
8. Dapat merasakan bagaimana keadaan seseorang itu ketika menghadapi ajalnya (sakaratul maut).

Tuesday, 10 September 2013

Cara Mengobati Orang Yang Berhati Keras



{Keterangan dari kitab "Mukhtashar Tadzkirah al-Qurthubi" halaman 5-6, karya Wali Quthub Syeikh Abdul Wahab asy-Sya'rani, cetakan "Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyyah", Surabaya - Indonesia}.

Cara mengobati orang yang berhati keras supaya hatinya menjadi lunak, sebagai berikut:

1. Ziarah kubur ke makam-makam kaum muslimin, terutama ke makam-makam para Nabi, Waliyullah, dan orang-orang yang shaleh,

2. Menghadiri majelis pengajian (secara face to face) ulama, dan orang-orang yang shaleh,

3. Mendengarkan kisah-kisah para ahli ibadah dan ahli zuhud di masa lalu,

4. Mengingat mati, yang dapat menimbulkan sebagai pemutus dari segala bentuk kelezatan duniawi, pemisah
dari orang-orang yang suka hidup bermewah-mewahan, dan penyebab anak-anak menjadi yatim, yang tadinya hidup mereka mulia dengan kedua orangtua mereka,

5. Menyaksikan orang yang sedang menghadapi sakaratul maut.

Tabarruk dengan Jenazah Syeikh Ibnu Taimiyah


Masalah tabarruk dengan jenazah Syeikh Ibnu Taimiyah diterangkan di dalam kitab "Al-Bidayah wan-Nihayah" karya Imam Ibnu Katsir cetakan Dar el-Fikr pada jilid 7 juz 14 halaman 135 sebagai berikut:

قال الشيخ علم الدين البرزالى فى تاريخه. و فى ليلة الاثنين العشرين من ذى القعدة توفى الشيخ الامام العالم العلم العلامة الفقيه الحافظ الزاهد العابد المجاهد القدوة شيخ الاسلام تقي الدين أبو العباس أحمد بن شيخنا الامام العلامة المفتى شهات الدين أبى المحاسن عبد الحليم ابن الشيخ الامام شيخ الاسلام أبى البركات عبد السلام بن عبد الله بن أبى القاسم محمد بن الخضر بن محمد ابن الخضر بن على بن عبد الله بن تيمية الحرانى ثم الدمشق , بقلعة دمشق بالقاعة التى كان محبوسا بها , و حضر جمع كثير الى القلعة , و أذن له فى الدخول عليه , و جلس جماعة عنده قبل الغسل و قرؤا القرأن و تبركوا برؤيته و تقبيله ثم انصرفوا , ثم حضر جماعة من النساء ففعلن مثل ذلك ثم انصرفن و اقتصروا على من يغسله

Artinya: 
"Telah berkata as-Syaikh 'Alamuddin al-Barzali di dalam kitab tarikhnya: Pada malam Senin tanggal 20 Dzul-Qa'dah telah wafat as-Syaikh al-Imam al-'Alim al'Ilmi al-'Alamah al-Faqih al-Hafidz az-Zahid al-'Abid al-Mujahid al-Qudwah Syaihul Islam Taqiyuddin Abul 'Abbas Ahmad bin Syaihuna al-Imam al-'Alamah al-Mufti Syihabuddin Abil Mahasin 'Abdul Halim Ibnu asy-Syaikh al-Imam Syaihul Islam Abil Barakat "Abdussalam bin 'Abdullah bin Abil Qasim Muhammad bin al-Khadir bin Muhammad Ibn al-Khadir bin 'Ali bin 'Abdullah bin Taimiyah bertempat di tanah al-Haran, kemudian ad-Damsyiq, di Qal'ah Damsyik beliau dipenjara di sana. Ketika Ibnu Taimiyah wafat orang-orang ke pergi Qal'ah dan mereka diizinkan untuk memasuki Qal'ah. Kemudian orang-orang (kaum laki-laki) duduk di sisi jenazah Ibnu Taimiyah sebelum dimandikan. Mereka membacakan Al-Qur'an dan bertabarruk (mengambil berkah) dengan melihat dan menciumnya, terus bubar. Kemudian hadir kaum perempuan dan melakukan seperti apa yang dilakukan oleh kaum laki-laki, terus bubar. Mereka meringkas perbuatan tersebut, karena jenazah akan dimandikan.

Selain itu di halaman berikutnya, yaitu halaman 136 diterangkan bahwa: Orang-orang berbondong-bondong mengantarkan jenazah Syeikh Ibnu Taimiyah, hingga iring-iringan jenazahnya memenuhi jalanan. Semua orang menyerbunya dari berbagai penjuru, sehingga kerumunan orang semakin bertambah ramai saja dan berdesak-desakan. Mereka melemparkan sapu tangan dan sorban-sorban mereka di atas usungan jenazah untuk mengambil berkah. Kayu-kayu usungan jenazah banyak yang putus akibat terlampau banyak orang yang bergelantungan. Mereka juga meminum air bekas memandikan jenazah Syeikh Ibnu Taimiyah, bahkan mereka bersedia membeli sisa-sisa kayu bidara (bekas memandikan jenazah). Juga diterangkan di halaman kitab itu bahwa benang yang diberi air raksa yang diletakkan pada jasadnya untuk menghalau kutu-kutu pun mereka beli dengan harga "seratus lima puluh dirham".

BIOGRAFI SINGKAT PENGARANG KITAB "AL-BIDAYAH WAN-NIHAYAH" : AL-HAFIDZ AL-IMAM IBNU KATSIR
==============================================

Nama lengkapnya Isma'il bin Umar bin Katsir al-Bashri ad-Dimasyqi. Beliau terkenal dengan nama Abu Katsir Imaduddin Abul Fida' (wafat tahun 774 H / 1374 M).

Selain itu beliau terkenal sebagai ulama Syafi'i yang ahli di bidang ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu fiqih, ilmu sejarah dll.

Kitab-kitab karangan beliau antara lain:
1. Tafsir Ibnu Katsir
2. Syarah al-Jami'us Shahih lil Bukhari (syarah Hadits Bukhari)
3. Jami'ul Masanin was Sunnah (Hadits: 8 jilid)
4. Thabaqatul 'Ulama (Sejarah Ulama-ulama)
5. Al-Fushul fii Siratil Rasul (sejarah Nabi)
6. Al-Wadhihiyun Nafis fii Manaqib Muhammad bin Idris (kitab keutamaan Imam Syafi'i)
7. Al-Ijtihad fii Thalibil Jihad (kitab yang menerangkan tentang mengerahkan perang fii sabilillah)

Tawasul Minta Hujan ke Makam Nabi saw & Paman Nabi

Kitab "Fathul Bari Syarah Shohih al-Bukhori" jilid 2 

Nama kitab: Umdatul Qari Syarah Shohih Al-Bukhori (12 Jilid Besar / 25 Juz) Karya: As-Syaikh Al-Imam Badruddin Abi Muhammad Mahmud bin Ahmad Al-'Aini Tahun Wafat: 855 H / 1451 M Penerbit: Darul Fikr, Beirut - Libanon

Boleh hukumnya bertawassul kepada para Nabi, paman Nabi saw, dan orang-orang yang ahli berbuat kebajikan / kemashlahatan (misalnya waliyullah dan orang-orang sholeh), sebagaimana diterangkan di dalam kitab hadits "Fathul Bari Syarah Shohih al-Bukhori", "Umdatul Qari Syarah Shohih al-Bukhori" dsb, di antaranya pada kitab "Fathul Bari Syarah Shohih al-Bukhori) jilid 2 halaman 626 - 627 (lihat tulisan yang ada di foto) dengan keterangan sebagai berikut: 

Artinya
=====

Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Muhammad, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah al-Anshari, dia berkata: Telah menceritakan kepada saya Abi Abdullah bin al-Mutsanna dari 'Umamah bin Abdillah bin Anas dari Anas bahwa sesungguhnya Umar bin Khottob radiyallahu 'anhu apabila orang-orang tertimpa musim kemarau yang sangat panjang, beliau memohon diturunkan hujan dengan bertawassul kepada Abbas bin Abdul Muthallib. Kemudian beliau berkata: 

"ALLAAHUMMA INNA KUNNA NATAWASSALU ILAIKA BINABIYYINA FATASQIINA WA INNA NATAWASSALU ILAIKA BI'AMMI NABIYYINA FASQINA QAALA: FAYUSQAUNA."

{YA ALLAH ! SESUNGGUHNYA KAMI BERTAWASSUL KEPADAMU DENGAN PERANTARAAN NABI KAMI, MAKA TURUNKANLAH KAMI HUJAN ! DAN, SESUNGGUHNYA KAMI BERTAWASSUL KEPADAMU DENGAN PERANTARAAN PAMAN NABI KAMI, MAKA TURUNKANKANLAH KAMI HUJAN ! BELIAU BERKATA: KEMUDIAN ORANG-ORANG ITU DITURUNKAN HUJAN (OLEH ALLAH SWT) }.







Di dalam kitab "Fathul Bari Syarah Shohih al-Bukhori" jilid 2 halaman 627 (lihat tulisan di foto pada baris 12-15 dari atas) diterangkan sebagai berikut:

Artinya:
=====
"Pada zaman pemerintahan Umar bin Khottob orang-orang tertimpa kemarau yang sangat panjang. Kemudian, ada seorang laki-laki berziarah ke makam Nabi saw. Dia berkata: Ya, Rasulullah ! Mintakanlah hujan (kepada Allah) untuk ummatmu ! Karena, mereka sedang mengalami kerusakan (kelaparan). Kemudian, laki-laki itu tertidur. Di dalam tidurnya dia bermimpi Nabi saw. Kata Nabi: Datanglah kepada Umar ! Al-Hadits.

Imam Saif meriwayatkan di dalam kitab "Al-Futuh" bahwa laki-laki yang bermimpi Nabi saw itu adalah Bilal bin al-Hatits al-Mazani, salah seorang sahabat Nabi saw.


Kitab "Fathul Bari Syarah Shahih Al-Bukhari" karya Al-Imam Al-Hafidz Syihabuddin Ibnu Hajar Al-'Asqalani (Lahir 12 Sya'ban 773 H / 18 Pebruari 1372 M dan wafat 28 Dzul-Hijjah 852 H / 22 Pebruari 1449 M), cetakan kedua "Darul Ma'rifat", Beirut - Libanon

Nama kitab: Irsyadus Sari Syarah Shohih Al-Bukhori (10 Jilid Besar)

Nama kitab: Kirmani Syarah Shohih Bukhori (13 Jilid Besar)

Nama kitab: Shohih Al-Bukhori (4 Jilid) Karya: Imam Al-Bukhori 

CATATAN
======

1. BIOGRAFI IMAM IBNU HAJAR AL-ASQALANI:
--------------------------------------------------
http://www.facebook.com/note.php?note_id=273073116076252

2. Awas hati-hati dan waspada dengan kitab hadits "Fathul Bari Syarah Shohih al-Bukhori" yang sudah dipalsukan (ditahqiq) Wahabi / Salafi:
https://www.facebook.com/media/set/?set=a.294767697234531.70139.100001039095629&type=1

Hukum Ziarah dan Tabarruk ke Makam Orang Shaleh dan Waliyullah




Kitab "
Al-Bidayah wan Nihayah karya Al-Hafidz Ibnu Katsir cetakan Daar el-Fikr tahun 1978 Jilid 6 Juz 12 halaman 287.

# الخضر بن نصر #
===========

على بن نصر الأربلى الفقيه الِشافعي أول من درس بأربل فى سنة ثلاث و ثلاثين و خمسمائة , و كان فاضلا دينا , انتفع به الناس , و كان قد اشتغل على الكيا الهراسي و غيره ببغداد , و قدم دمشق فأرخه ابن عساكر فى هذه السنة , و ترجمه ابن خلكان فى الوفيات , و قال قبره يزار , و قد زرته غير مرة , و رأيت الناس ينتابون قبره و يتبركون به

Artinya:

"Ali bin Nasr al-Arbil, seorang ulama pakar fiqih Syafi'i adalah orang pertama yang mengajar di daerah Arbil pada tahun 533 H / 1139 M. Beliau seorang yang mempunyai keistimewaan di bidang ilmu agama. Banyak orang mengambil manfa'at dengan keilmuan beliau. Beliau sibuk sekali di al-Harasyi dan lainnya di Baghdad. Beliau mendatangi Damsyiq (sekarang Damaskus - Syria). Kemudian Ibnu 'Asakir menuliskan sejarah tentang beliau pada tahun itu juga, dan Ibnu Khulkan menterjemahkannya ke dalam kitab-kitab sejarah secara cermat. Dan dia berkata: Makam beliau suka diziarahi orang. Sesungguhnya aku (Imam Ibnu Katsir, pengarang kitab ini) pun sering menziarahinya. Aku melihat orang-orang meninggikan kuburannya dan mengambil berkah dengan menziarahinya (bukan menyembah dan meminta berkah kepada kuburan) pula".


BIOGRAFI SINGKAT PENGARANG, AL-HAFIDZ AL-IMAM IBNU KATSIR
==============================================

Nama lengkapnya Isma'il bin Umar bin Katsir al-Bashri ad-Dimasyqi. Beliau terkenal dengan nama Abu Katsir Imaduddin Abul Fida' (wafat tahun 774 H / 1374 M).

Selain itu beliau terkenal sebagai ulama Syafi'i yang ahli di bidang ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu fiqih, ilmu sejarah dll.

Kitab-kitab karangan beliau antara lain:
1. Tafsir Ibnu Katsir
2. Syarah al-Jami'us Shahih lil Bukhari (syarah Hadits Bukhari)
3. Jami'ul Masanin was Sunnah (Hadits: 8 jilid)
4. Thabaqatul 'Ulama (Sejarah Ulama-ulama)
5. Al-Fushul fii Siratil Rasul (sejarah Nabi)
6. Al-Wadhihiyun Nafis fii Manaqib Muhammad bin Idris (kitab keutamaan Imam Syafi'i)
7. Al-Ijtihad fii Thalibil Jihad (kitab yang menerangkan tentang mengerahkan perang fii sabilillah

Monday, 9 September 2013

Hukum Shalat di Masjid Yang Ada Kuburnya

Hadits Nabi merupakan salah satu pengetahuan yang dikategorikan sebaga "Pure Science (Ilmu Pengetahuan Murni)". Olehkarena itu, untuk mempelajari dan memahaminya kita harus mempunyai pengetahuan dasar di bidang itu dan dibantu dengan pengetahuan-pengetahuan lainnya, seperti: Ilmu Asbabul Wurud (Ilmu tentang Sebab-sebab Turunnya Hadits), dan ilmu-ilmu lainnya.


Di dalam kitab "Al-Bayan wat Ta'rif fii Asbabi Wurudil Hadits Asy-Syarif" karya Syaikh Ibrahim bin Muhammad bin Kamaluddin jilid 1 halaman 259 - 260 ada hadits Nabi berbunyi demikian:

اعلموا أن شرار الناس الذين اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد

أخرجه الامام أحمد و أبو يعلى عن أبى عبيدة بن الجراح رضي الله عنه

Artinya:
"Ketahuilah oleh kalian bahwa seburuk-buruk manusia adalah orang-orang yang menjadikan kuburan-kuburan Nabi mereka sebagai masjid.

Hadits dikeluarkan oleh Imam Ahmad dan Abu Ya'la dari Abi 'Ubaidah bin Jarah RA."

Hadits di atas jangan dipahami secara literal atau tekstual tanpa mengetahui asbabul wurudnya ! Karena, kalau kita tidak tahu asbabul wurud atau latar belakang turunnya hadits tersebut, sudah barangtentu kita akan salah dalam memahami hadits di atas dan pasti kita beranggapan bahkan memberi hukuman haram dan tidak sah shalat di masjid yang ada kuburannya, meskipun berada di samping masjid. Anggapan tersebut tidaklah benar. Karena, maksud hadits tersebut tidaklah demikian. Hal itu bisa dibuktikan dengan mengetahui asbabul wurud atau latar belakang turunnya hadits tersebut, sebagaimana diterangkan oleh pengarang kitab 'Al-Jami'ul Kabir, beliau berkata:

أخرجوا يهود أهل الحجاز و أهل نجران من جزيرة العرب و اعلموا أن شرار الناس فذكره

Artinya:
" Usirlah Yahudi penduduk tanah Hijaz dan penduduk tanah Najran dari Jazirah Arab !. Dan ketahuilah bahwa seburuk-buruk manusia adalah apa yang disebutkan beliau dalam hadits tersebut".

Meninjau sebab turunnya hadits di atas, Nabi SAW menyuruh sahabat-sahabat beliau untuk mengusir orang-orang Yahudi penduduk tanah Hijaz dan tanah Najran, yang suka menyembah kuburan-kuburan Nabi-nabi mereka yang dijadikan sebagai masjid, dari wilayah Jazirah Arab. Sebab, kalau dibiarkan saja dikuatirkan akan mempengaruhi dan membahayakan bagi penduduk setempat yang telah menganut agama Islam. Atas dasar itu, maka boleh hukumnya shalat di masjid yang ada kuburannya. Karena, shalat di masjid yang ada kuburannya, misalnya di samping masjid, bukan berarti kita shalat menyembah kuburan. Tapi, kita semata-mata shalat hanya untuk menyembah Allah swt.


Di dalam kitab "Jawahirul Bihar" jilid 2 juz 4 halaman 184, karya Syeikh Yusuf bin Isma'il an-Nabhani, cetakan "Al-Halabi" Mesir diterangkan pula bahwa hadits Nabi tersebut di atas Nabi saw melarang agama Yahudi dan Nashrani menetap di tanah Arab. Begitu hadits Nabi saw yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dari Abi 'Ubaidah bin al-Jarrah.

Di dalam kitab "Jawahirul Bihar" pada jilid dan halaman yang sama diterangkan bahwa boleh hukumnya shalat di samping kuburan para Nabi karena mengagungkan kepada mereka, bukan mengagungkan (menyembah) seperti apa yang dilakukan oleh Yahudi dan Nashrani terhadap Nabi-nabi mereka.

Lihat pula di kitab "Umdatul Qari Syarah Shohih Al-Bukhori (12 jilid besar / 25 juz) karya Imam Badruddin Abu Muhammad Mahmud bin Ahmad Al-'Aini jilid 2 juz 4 halaman 173-174 !

Malam Nisfu Sya'ban


{Keterangan dari kitab “At-Tajul Jami’ lil Ushul”, karya Syeikh Manshur Ali Nashif, jilid 2 halam 93 dan lihat pula di kitab "Tuhfatul Ahwadzi Syarah Jami' at-Tirmidzi" pada jilid 3 halaman 439-440, cetakan "Darul Fikr", Libanon Beirut

عن علي رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه و سلم قال: إذا كانت ليلة النصف من شعبان فقوموا ليلها وصوموا نهارها فإن الله ينزل فيها إلى سماء الدنيا فيقول : ألا من مستغفر فأغفر له ، ألا من مسترزق فأرزقه ألا من مبتلى فأعافيه ألا كذا ألا كذا حتى يطلع الفجر. رواه ابن ماجه

Artinya
=====

“Dari Ali, semoga Allah meridhoi beliau !, dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: Apabila telah tiba malam Nisfu Sya’ban, maka hidupkanlah dengan mengerjakan salat dan puasalah pada siang harinya, sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada malam itu, lalu Allah berfirman: "Orang yang meminta ampunan kepadaku, maka akan Aku ampuni dia, orang yang meminta rizqi kepadaku, maka akan Aku berikan dia rizqi, orang yang mendapatkan cobaan, maka aku bebaskan dia dari cobaan itu, hingga fajar menyingsing." (H.R. Ibnu Majah).



عن عائشة رضي الله عنها قالت : فقدت النبي صلى الله عليه و سلم ذات ليلة , فخرجت أطلبه , فاذا هو بالبقيع رافع رأسه الى السماء فقال : يا عائشة أكنت تخافين أن يحيف الله عليك و رسوله قلت : ظننت أنك أتيت بعض نسائك فقال : أن الله تعالى ينزل ليلة النصف من شغبان الى سماء الدنيا فيغفر لأكثر من عدد شغر غنم كلب . رواه ابن ماجه و البرمذي و أحمد

Artinya
===== 

“Dari Aisyah, semoga Allah meridhoi beliau !, telah berkata: Pada suatu malam hari aku kehilangan Nabi shallallaahu ‘alahi wa sallam, kemudian aku keluar mencari beliau. Ketika itu beliau sedang mengangkat kepala beliau ke langit. Kemudian, beliau berkata: Wahai Aisyah ! Apakah engkau takut Allah dan Rasul-Nya menelantarkan engkau. Aku berkata: Aku menyangka bahwa engkau mendatangi sebagian isteri-isteri engkau. Kemudian, beliau berkata: Sesungguhnya Allah ta’ala turun pada malam Nisfu Sya’ban ke langit dunia. Lalu, Dia mengampuni lebih banyak dari jumlah bulu kambing milik kabilah Bani Kalb (salah satu kabilah yang banyak memiliki kambing). (H.R. Ibnu Majah, at-Tirmidzi, dan Ahmad). 

عن أبى موسى رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه و سلم قال : ان الله ليطلع فى ليلة النصف من شغبان فيغفر لجميغ خلقه الا لمشرك أو مشاحن . رواه ابن ماحه و أحمد 

Artinya
=====

“Dari Abu Musa, semoga Allah meridhoinya !, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata: Sesungguhnya Allah akan muncul pada malam Nisfu Sya’ban, kemudian Dia akan mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik atau orang yang suka bermusuhan. (H.R. Ibnu Majah dan Ahmad). 

~ :: ~


Selain itu, di dalam kitab “As-Sunan al-Kubra” karya Imam Baihaqi jilid 3 halaman 319, cetakan “Darul Fikr”, Beirut Libanon, diterangkan sebagai berikut: 

قال الشافغي و بلغنا أنه كان يقال : ان الدغاء يستجاب فى خمس ليال فى ليلة الجمعة و ليلة الأضحى و ليلة الفطر و أول ليلة من رجب و ليلة النسف من شغبان

Artinya
======

“Berkata Imam Syafi’i: Telah sampai kepada kami bahwa sesungguhnya do’a dikabulkan pada lima malam, yaitu: 1. Malam Jum’ah, 2. Malam Idhul Adha, 3. Malam Idhul Fitri, 4. Awal malam bulan Rajab, dan 5. Malam Nisfu Sya’ban.



~ :: ~


Begitupula di dalam kitab hadits "Sunan at-Tirmidzi" pada jilid 2 halaman 120 diterangkan sebagai berikut (lihat tulisan di foto

Artinya
=====

"Telah menceritakan kepada kami Bundar, telah mengkabarkan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi dari Sufyan dari Manshur dari Salim bin Abu al-Ja'di dari Ummu Salamah, beliau berkata: Aku tidak pernah melihat Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam berpuasa berturut-turut kecuali di bulan Sya'ban dan Ramadhan". (Hadits Hasan Riwayat Ummu Salamah)."

Nabi saw Berziarah ke Makam Ibunya


Di dalam kitab "At-Tajul Jami' lil Ushul fii Ahaditsir Rasul (التاج الجامع للأصول في أحاديث الرسول)" karya Syeikh Manshur Ali Nashif diterangkan (lihat foto yang ada tulisannya} pada jilid 1 halaman 382 yang artinya sebagai berikut:


"Dari Abu Hurairah beliau berkata: Nabi saw berziarah ke makam ibunya dan beliau menangis. Begitupula orang-orang yang berada di sekitarnya pada menangis. Kemudian, beliau berkata: Aku meminta idzin kepada Tuhanku supaya aku bisa memintakan ampunan untuknya. Namun aku tidak diidzinkan oleh-Nya. Terus aku meminta idzin kepada-Nya supaya aku bisa menziarahinya. Kemudian, Dia mengidzinkan aku untuk menziarahi ibuku. Berziarahlah ke makam-makam !! Karena, berziarah itu dapat mengingatkan mati. Hadits riwayat Imam Muslim, Abu Dawud, dan Nasa'i ".

Maksud hadits tersebut di atas sebagai berikut:
Ketika Nabi Muhammad saw menziarahi ibunya yang bernama Sayyidah Aminah binti Wahab, beliau menangis karena ibunya tidak beragama Islam dan tidak mendapat kesenangan di dalamnya, dan Allah tidak mengidzinkan Nabi saw memintakan ampunan untuk ibunya. Karena, permintaan ampunan itu syaratnya harus beragama Islam. Sedangkan ibunda Nabi saw wafat dalam keadaan menganut agama kaumnya sebelum beliau diangkat jadi Rasul. Hal ini bukan berarti ibunda Nabi saw tidak masuk surga, karena ibunda Nabi saw itu termasuk ahli fatrah (masa kekosongan atau vakum antara dua kenabian).

Menurut ulama jumhur bahwa ahli fatrah itu adalah orang-orang yang selamat (orang-orang yang selamat dari api neraka dan mereka tetap dimasukkan ke dalam surga). Firman Alla swt dalam surat Al-Isra ayat 15:

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبۡعَثَ رَسُولاً۬

Artinya: Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul. 

Bahkan berlaku dan absah menurut ahli mukasyafah bahwa Allah ta'ala menghidupkan kembali kedua orangtua Nabi saw setelah beliau diangkat jadi Rasul. Kemudian, mereka beriman kepada Nabi saw. Olehkarena itu, sudah pasti mereka termasuk ahli surga.