Showing posts with label Kitab Tanbihul Mughtarrin. Show all posts
Showing posts with label Kitab Tanbihul Mughtarrin. Show all posts

Thursday, 26 September 2013

Hikmah Itu Turun Dari Langit Dan Masuk Ke Dalam Hati

(Kitab "Tanbihul Mughtarrin" / Peringatan Bagi Orang-orang Yang Tertipu, halaman 187, karya Syaikhul Islam Syaikh Abdul Wahab asy-Sya'roni, cetakan "Darul Kutub al-Islamiyyah, Kalibata - Jakarta Selatan).

و كان يحيى بن معاذ رحمه الله تعالى يقول : تهوى الحكمة من السماء , فلا تنزل على قلب فيه هذه الأربع خصال : الركون الى الدنيا , و حمل هم غد , و حسد لأخ , و حب شرف على الدنيا

Artinya

Kata Yahya bin Mu'adz: Hikmah itu turun dari langit, namun hikmah itu tidak turun untuk masuk ke dalam hati seseorang apabila di dalam hatinya terdapat empat perkara, yaitu:

1. Merasa tentram karena mempunyai dunia (misalnya: harta dan jabatan),
2. Merasa susah (karena tidak sabar menrima cobaan dari Allah SWT) menghadapi hari esok,
3. Suka hasud kepada orang lain (termasuk membid'ah-bid'ahkan dan memusyrik-musyrikkan orang lain),
4. Senang mencari kemuliaan di hadapan manusia.

Wednesday, 18 September 2013

Imam Syafi'i Tabarruk Dengan Jubah Imam Ahmad Bin Hanbal


{Kitab “Tanbihul Mughtarrin”, karya Imam Abdul Wahab asy-Sya’rani, seorang wali qutub pada zamannya, halaman 86, cetakan “Darul Kutub al-Islamiyyah”, Kalibata – Jakarta Selatan}.

Di antara akhlak ulama salaf shaleh adalah meluluhlantahkan dirinya dengan melakukan tabarruk (mengambil berkah) kepada muridnya dan menanggung resiko dengan apa yang dilakukannya. Dia tidak memandang dirinya lebih alim (pintar) atau lebih banyak amal shalehnya dibandingkan muridnya berdasarkan syara’. Apabila itu ada pada dirinya, dia tidak takut dengan fitnah yang akan menimpanya dengan sebab melakukan tabarruk kepada muridnya.

Sungguh telah datang kepada kami bahwa Imam Syafi’I, semoga Allah meridhai beliau!, ketika mengutus seorang utusan yang ditunjuk beliau untuk mengunjungi Imam Ahmad bin Hanbal, beliau merasakan akan ada musibah besar yang akan menimpanya, namun beliau selamat dari musibah itu, yakni tentang munculnya sebuah permasalahan: “Apakah al-Qur’an itu makhluk atau bukan?.”

Maka, ketika utusan itu memberitahukan tentang tujuan kedatangannya, langsung Imam Ahmad melepas gamis atau baju jubah yang dikenakannya dan memberikannya kepada utusan itu, karena beliau merasa sangat gembira atas kedatangan utusan gurunya, Imam Syafi’i.
Ketika utusan itu pulang dengan membawa gamis dan memberitahukannya kepada Imam Syafi’i, maka beliau berkata kepadanya: Apakah gamis ini sesuatu yang langsung melekat pada badannya, tanpa ada sesuatu lain yang menghalanginya?. Jawab utusan itu: Ya, benar.

Berkata Imam Abdul Wahab asy-Sya’rani: Kemudian, Imam Syafi’I mencium gamis itu dan meletakkannya di atas kedua mata beliau. Selanjutnya, beliau mengucurkan air ke atas gamis itu di dalam sebuah wadah dan mengosok-gosokkannya di dalamnya. Setelah itu beliau memerasnya dan meletakkan air basuhan gamis itu ke dalam sebuah botol. Maka, setiap ada orang sakit dari kalangan sahabat beliau, beliau mengirimkan air basuhan dari gamis itu kepadanya. Kemudian, jika dia mengusap badannya dengan air basuhan itu, maka sembuhlah penyakitnya, karena memang sudah waktunya.

Dengan demikian, simaklah wahai saudaraku tentang ketawadhu’an (kerendah-hatian) Imam Syafi’I dan Imam Ahmad sebagai murid beliau !. Ini menunjukkan kepadamu bahwa suatu kaum meskipun banyak amal shaleh mereka, namun mereka tidak memandang luhur diri mereka sehingga merendahkan orang lain, sebaliknya dari kaum itu banyak hal-hal yang terjadi pada golongan guru-guru agama di zaman sekarang ini.

Tuesday, 17 September 2013

Biografi Syaikh Al-Islam Asy-Syaikh Abdul Wahab Asy-Sya'rani


BIOGRAGFI SYAIKH ABDUL WAHAB ASY-SYA’RANI, PENGARANG KITAB "TANBIHUL MUGHTARRIN"

Nama lengkap beliau adalah Abdul Wahab bin Ahmad bin Ali bin Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Musa Asy-Sya’rani Al-Anshari Asy-Syafi’i Asy-Syadzili Al-Mishri. Abdul Wahab Asy-Sya’rani terkenal dengan panggilan Imam Asy-Sya’rani, yaitu salah seorang sufi terkenal yang diakui sebagai wali quthub pada zamannya yang memperoleh gelar sufistik Imamul Muhaqqiqin wa Zudwatul Arifin (pemuka ahli kebenaran dan teladan orang-orang makrifat). Dia dilahirkan di desa Qalqasandah - Mesir pada tanggal 27 Ramadhan 989 H. / 12 Juli 1493 M.



Nama Asy-Sya’rani adalah panggilan yang diberikan kepadanya yg diambil dari nama sebuah desa tempat tinggalnya di mana dia dibesarkan, yaitu Sya’rah, sebuah desa di wilayah Mesir. Syaikh Asy-Sya’rani sejak kecil sangat cinta akan ilmu dan gemar sekali menuntut ilmu khususnya ilmu-ilmu dunia dan sufistik. Karena kemuliannya, jika dia sedang berjalan banyak orang menghampirinya dan berebut tangan untuk menyalami dan mencium tangannya hanya sekadar untuk memperoleh berkah dari sang wali. Banyak dari kalangan orang-orang Yahudi dan Nasrani yang menyatakan bertaubat dan akhirnya berbaiat masuk islam dan menjalani amalan sufi yang dibimbing langsung oleh Syaikh Asy-Sya’rani. Demikian pula banyak para penjahat dan pelaku maksiat yang akhirnya sadar dan bertaubat dari perbuatan buruknya setelah mendengar pengajian-pengajian yang disampaikan oleh Syaikh Asy-Sya’rani.

Selain itu, dia seorang Syaikhul Islam, faqih, Ushuli, Muhaddits (pakar hadits), dan Shufi. Dia dikenal sebagai ulama yang arif dalam khazanah keilmuan Islam. la menulis lebih dari 60 buah kitab, kebanyakan bercorak tasawuf. Di antara karyanya yang paling menarik adalah yang berupa otobiografi, al-Lathaiful Minan. Dalam kitab al-Lathaiful Minan itu diterangkan tentang perjalanan hidup seorang sufi yang penuh dengan keteladanan. Dan yang patut menjadi contoh suri tauladan dalam awal kehidupannya adalah, ia hafal Al-Qur’an pada usia delapan tahun.

Karamahnya sudah terlihat sejak masa kanak-kanak. Dia tidak pernah takut dengan makhlauk apapun, seperti ular, kalajengking, buaya, pencuri, jin dan sebagainya (lihat di kitab “Jami’u Karamatil Aulia jilid 2 halaman 277, cetakan “Darul Fikr”, Beirut – Libanon). Pada suatu hari ketika dia tenggelam di Sungai Nil, dengan sangat menakjubkan, dia diselamatkan oleh seekor buaya, yang disangkanya sebongkah batu.

Syaikhul Islam Zakaria Al-Anshari (w. 916 H/1511 M) memberi izin kepadanya untuk mengajarkan fiqih. Sejak kecil ia sudah bergaul dengan para 'arifin. Semua gurunya mengajarkan syariat dan tasawuf, dan meninggal dalam keadaan ridha terhadap dirinya. Dia dikenal sebagai ulama yang tidak fanatik buta dalam menganut kepercayaan tertentu. Akhlaqnya sangat mulia, baik sebagai sufi, maupun sebagai orang shalih. Ia menolak memakan sesuatu yang telah disedekahkannya. Dia sangat berlapang dada dalam segala urusannya dengan sesama muslim, bahkan dengan musuh yang paling membecinya sekalipun. Da tidak pernah berlama-lama dalam mengunjungi sahabat. Dan sepanjang hidupnya, ia terpelihara dari keinginan meminta-minta. Bahkan, ia belum pernah mengungkapkan godaan-godaan batin yang telah membuatnya menderita kepada seorang manusia pun, sehingga kerap keluar asap dari mulut, telinga, dan hidungnya. Asap yang keluar itu dikenali muridnya sebagai bentuk nafsu buruk yang dapat dikendalikan, sehingga keluar sebagai semacam kotoran dari tubuhnya. la tidak pernah mengejar kedudukan tinggi dan derajat duniawi.

Dia sadar akan zaman yang melahirkannya, dan tak pernah mencoba hidup menurut masa lalu atau masa mendatang. Bila menghadapi kesulitan, ia selalu berserah diri kepada Allah, tidak kepada manusia. Sepanjang hidupnya, ia meng­habiskan seluruh waktunya di lingkungan kefakiran dan kezuhudan.

Syaikh Asy-Sya'rani dikenal memiliki kemampuan yang luar biasa. Dia dapat melihat jauh ke depan, dalam arti waktu. Dan dari sinilah ia memberikan keteladanan-keteladanan. Namun di hadapan umum, ia tidak pernah memperlihatkan kemampuan yang dimilikinya kepada orang lain. Meskipun begitu, orang sering mengenali karamahnya. Seperti ketika dia menjamu tamu-tamunya, sering makanannya tiba­ tiba berlipat ganda. Secara menakjubkan ia juga mampu mendengar binatang-binatang atau benda-benda mati bertasbih memuji Allah swt.

Syaikh Asy-Sya'rani dikenal alim dan wara'. Dia tidak pernah melupakan kewajiban-kewajibannya sebagai hamba Allah. Ia selalu menghindari buang angin di dalam masjid, baik di masjidnya maupun di masjid lain. Dia selalu menghadap Allah, juga ketika berbaring dengan istrinya sebagaimana kala bersembahyang. Terhadap para muridnya, dia senantiasa berbuat adil. Dia juga merasa enggan dicium tangannya. Dalam tidurnya, ia sering bergaul dengan orang-orang yang telah mati dan bertanya kepada mereka tentang keadaan di alam kubur. Dia dapat melihat arwah para wali dan disambut ramah oleh mereka.

Berikut beberapa mimpi Syaikh Asy-Sya'­rani, sebagaimana dituliskan dalam otobiografinya itu: "Dulu aku mempunyai seorang tetangga yang suka menghina sesamanya. Allah melaknatnya dengan penyakit asma dan lumpuh. Selama kira-kira sepuluh tahun, ia tidak dapat berbaring, dagunya bertumpu di atas lutut, otot-ototnya kian melemah. Kemudian ia mati, dan dikuburkan. Aku bertemu dengannya setelah kematiannya, dan bertanya, "Apakah kau masih lumpuh?" "Ya, dan kelak aku akan dibangkitkan seperti ini pula. Semua ini lantaran kau dan Syaikh Syu'aib si 'tukang khutbah' itu," jawabnya. Tatkala hal ini kusampaikan kepada Syaikh Syu'aib, ia berkata, "Ya, hal itu memang benar. Bila aku lewat di depannya, ia selalu membuang ingus dan melemparkan dahaknya ke wajahku karena benci." Demikian pula dengan diriku, setiap kali lewat di hadapannya, ia mengumpatku dengan kata-kata yang tak patut ditunjukkan kepada kawanan sapi pun. Semoga Allah mengampuni dan mengasihinya.

Syaikh Abdul Wahhab Asy-Sya'rani meninggal di Mesir pada bulan Jumadil Awal 973 H./ November 1565 M.


Nama kitab: Tanbihul Mughtarrin (Peringatan Bagi Orang-orang Yang Tertipu)
Masalah: Ilmu tasawuf
Karya: Syaikh Abdul Wahab asy-Sya'rani
Tahun lahir & wafat: 898 - 973 H / 1492 - 1565 M
Tebal: 303 halaman
Penerbit: Darul Kutub al-Islamiyah, Kalibata - Jakarta Selatan

Ciri-ciri orang shaleh ada tiga perkara


{Kitab "Tanbihul Mughtarrin" karya Syaikhul Islam al-Muhaddits al-Ghauts asy-Syeikh Abdul Wahab asy-Sya'rani, halaman 256, cetakan "Darul Kutub al-Islamiyyah", Kalibata - Jakarta Selatan}.

Kata Sayyidina Ali RA: Ciri-ciri orang shaleh ada tiga perkara, yaitu:
===========================================

1. Kuning pucat warna kulitnya, sebab sering tidak tidur di waktu malam hari (dalam istilah taswuf namanya "as-Sahar") karena taqarrub kepada Allah dengan memperbanyak melaksanakan shalat-shalat sunnah dan ibadah-ibadah lainnya.

2. Rabun kedua matanya, karena banyak menangis dan takut kepada Allah SWT.

3. Pecah-pecah kedua belah bibirnya, karena sering menjalankan puasa-puasa sunnah.

Tuesday, 10 September 2013

ULAMA SALAF SHALEH SERING BERZIARAH KE MAKAM-MAKAM KAUM MUSLIMIN


Di dalam kitab "Tanbihul Mughtarrin", karya Imam Abdul Wahab asy-Sya'rani, halaman 101-102, cetakan "Dar al-Kutub al-Islamiyyah", Kalibata - Jakarta Selatan disebutkan sebagai bahwa:

Artinya:
"Di antara akhlak-akhlak ulama salaf shaleh, semoga Allah ta'ala meridhai mereka !, adalah mereka sering berziarah ke makam-makam kaum muslimin, karena mengamalkan hadits Nabi saw:

Artinya:
زوروا القبور فانها تذكركم الأخرة

"Ziarahlah kalian ke makam-makam kaum muslimin ! Karena, sesungguhnya ziarah itu mengingatkan kalian kepada akherat." (Hadits Shohih riwayat Abu Hurairah).

Bagaimana dengan orang-orang yang mengaku "Manhaj Salaf", tapi akhlak mereka bertentangan dengan akhlak-akhlak ulama salaf shaleh. Karena, mereka sering memvonis kepada orang-orang yang suka berziarah kubur dengan sebutan "Kuburiyyun (Golongan Penyembah Kuburan)"?

Padahal, ziarah itu bisa dijadikan sebagai "i'tibar (bahan pelajaran) bagi para peziarah, sehingga dapat mempunyai beberapa fungsi, di antaranya:

1. Dapat mengingatkan kepada akherat (kematian).
2. Dapat mencegah dari perbuatan-perbuatan maksiat.
3. Dapat melembutkan hati bagi orang yang berhati keras.
4. Dapat menghilangkan kegembiraan dunia, sehingga lupa dengan kehidupan akherat.
5. Dapat meringankan musibah (bencana).
6. Dapat menolak kotoran hati.
7. Dapat mengukuhkan hati, sehingga tidak terpengaruh dari ajakan-ajakan yang dapat menimbulkan dosa.
8. Dapat merasakan bagaimana keadaan seseorang itu ketika menghadapi ajalnya (sakaratul maut).

Monday, 9 September 2013

Celakalah Orang yang Suka Mencela Orang Lain


{Keterangan dari kitab "Tanbih al-Mughtarrin (Peringatan bagi Orang-orang yang Tertipu)", karya Imam Abdul Wahab asy-Sya'rani, halaman 49, cetakan "Dar al-Kutub al-Islamiyyah", Kalibata - Jakarta Selatan}.

Celakah diri sendiri sebelum mencela orang lain ! Karena, orang yang suka mencela orang lain (termasuk mencela amalan para ulama) dan tidak mencela diri sendiri termasuk orang yang celaka dan berkelakuan seperti Iblis. 

Iblis celaka karena lima perkara:
1. Tidak mengakui dosa-dosanya,
2. Tidak menyesali atas dosa-dosanya,
3. Tidak mencela dirinya,
4. Tidak segera bertaubat,
5. Putus asa dari rahmat Allah ta'ala.

CELAKALAH ORANG YANG SUKA MENCELA ORANG LAIN


{Keterangan dari kitab "Tanbih al-Mughtarrin (Peringatan bagi Orang-orang yang Tertipu)", karya Imam Abdul Wahab asy-Sya'rani, halaman 49, cetakan "Dar al-Kutub al-Islamiyyah", Kalibata - Jakarta Selatan}.

Celakah diri sendiri sebelum mencela orang lain ! Karena, orang yang suka mencela orang lain (termasuk mencela amalan para ulama) dan tidak mencela diri sendiri termasuk orang yang celaka dan berkelakuan seperti Iblis. 

Iblis celaka karena lima perkara:
1. Tidak mengakui dosa-dosanya,
2. Tidak menyesali atas dosa-dosanya,
3. Tidak mencela dirinya,
4. Tidak segera bertaubat,
5. Putus asa dari rahmat Allah ta'ala.

ABDULLAH BIN UMAR SHALAT DI KUBURAN



{Kitab “Tanbihul Mughtarrin”, karya Syaihul Islam asy-Syeikh Abdul Wahab asy-Sya’roni halamann 103, cetakan “Darul Kutub al-Islamiyyah”, Kalibata –Jakarta Selatan}

و قد مر عبد الله بن عمر رضي الله عنهما يوما على مقبرة , ففرش رداءه و صلى ركعتين هناك , فقيل له فى ذلك , فقال : ذكرت أهل القبور و قد حيل بينهم و بين العبادة , فأحببت أن أتقرب الى الله تعالى بركعتين بينهم 

Artinya:
=====

Pada suatu hari Abdullah bin Umar melewati sebuah kuburan. Kemudian, beliau menghamparkan selendangnya dan shalat di sana. Dikatakan dalam suatu riwayat beliau berkata: Aku ingat kepada para penghuni kuburan dan sesungguhnya bisa dijadikan rekayasa di antara mereka dan ibadah. Aku senang mendekatkat diri kepada Allah ta’ala dengan melaksanakan shalat di antara kuburan-kuburan mereka.