Showing posts with label Hukum. Show all posts
Showing posts with label Hukum. Show all posts

Tuesday, 10 September 2013

HUKUM MENGAMALKAN HADITS DHA'IF


Hadits merupakan salah satu sumber hukum Islam, yang fungsinya menjelaskan, mengukuhkan dan 'melengkapi' firman Allah SWT yang terdapat dalam Al-Qur’an. Di antara berbagai macam hadits, ada istilah Hadits Dha'f.

Dalam pengamalannya, terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sebagian kalangan ada yang tidak membenarkan untuk mengamalkan Hadts Dha'if. Bahkan ada yang mengatakan bahwa Hadits tersebut bukan dari Nabi Muhammad SAW. Lalu apakah sebenarnya yang disebut Hadits Dha'if itu? Benarkah kita tidak boleh mengamalkan Hadits Dha'if?

Hukum Yasinan


Hukum selamatan hari ke-3, 7, 40, 100, setahun, dan 1000 hari diperbolehkan dalam syari'at Islam. Keterangan diambila dari kitab "Al-Hawi lil Fatawi" karya Imam Jalaluddin Abdurrahman As-Suyuthi jilid 2 halaman 178 sebagai berikut:






قال الامام أحمد بن حنبل رضي الله عنه فى كتاب الزهد له : حدثنا هاشم بن القاسم قال: حدثنا الأشجعى عن سفيان قال
قال طاوس: ان الموتى يفتنون فى قبورهم سبعا فكانوا يستحبون أن يطعموا عنهم تلك الأيام , قال الحافظ ألو نعيم فى الجنة: حدثنا أبو بكر بن مالك حدثنا عبد الله بن أحمد بن حنبل حدثنا أبى حدثنا هاشم بن القاسم حدثنا الأشجعى عن سفيان قال: قال طاوس: ان الموتى يفتنون فى قبورهم سبعا فكانوا يستحبون أن يطعموا عنهم تلك الأيام

Artinya:
"Telah berkata Imam Ahmad bin Hanbal ra di dalam kitabnya yang menerangkan tentang kitab zuhud: Telah menceritakan kepadaku Hasyim bin Qasim sambil berkata: Telah menceritakan kepadaku al-Asyja'i dari Sufyan sambil berkata: TelaH berkata Imam Thawus (ulama besar zaman Tabi'in, wafat kira-kira tahun 110 H / 729 M):
Sesungguhnya orang-orang yang meninggal akan mendapat ujian dari Allah dalam kuburan mereka selama 7 hari. Maka, disunnahkan bagi mereka yang masih hidup mengadakan jamuan makan (sedekah) untuk orang-orang yang sudah meninggal selama hari-hari tersebut.

Telah berkata al-Hafiz Abu Nu'aim di dalam kitab Al-Jannah: Telah menceritakan kepadaku Abu Bakar bin Malik, telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, telah menceritakan kepadaku Ubay, telah menceritakan kepadaku Hasyim bin al-Qasim, telah menceritakan kepadaku al-Asyja'i dari Sufyan sambil berkata: Telah berkata Imam Thawus:
Sesungguhnya orang-orang yang meninggal akan mendapat ujian dari Allah dalam kuburan mereka selama 7 hari. Maka, disunnahkan bagi mereka yang masih hidup mengadakan jamuan makan (sedekah) untuk orang-orang yang sudah meninggal selama hari-hari tersebut."

Selain itu, di dalam kitab yang sama jilid 2 halaman 194 diterangkan sebagai berikut:


ان سنة الاطعام سبعة أيام بلغنى أنهامستمر الى الأن بمكة و المدينة فالظاهر أنها لم تترك من عهد الصحابة الى الأن و انهم أخذوها خلفا عن سلف الى الصدر الأول

ِArtinya:
"Sesungguhnya, kesunnahan memberikan sedekah makanan selama tujuh hari merupakan perbuatan yang tetap berlaku sampai sekarang (yaitu masa Imam Suyuthi abad ke-9 H) di Mekkah dan Madinah. Yang jelas kebiasaan tersebut tidak pernah ditinggalkan sejak masa sahabat sampai sekarang, dan tradisi tersebut diambil dari ulama salaf sejak generasi pertama, yaitu sahabat."

semoga ini menjadi sebab turunya hidayah الله  pada kita...امين.......

HUKUM YASINAN


Hukum selamatan hari ke-3, 7, 40, 100, setahun, dan 1000 hari diperbolehkan dalam syari'at Islam. Keterangan diambila dari kitab "Al-Hawi lil Fatawi" karya Imam Jalaluddin Abdurrahman As-Suyuthi jilid 2 halaman 178 sebagai berikut:


Hukum Ziarah dan Tabarruk ke Makam Orang Shaleh dan Waliyullah




Kitab "
Al-Bidayah wan Nihayah karya Al-Hafidz Ibnu Katsir cetakan Daar el-Fikr tahun 1978 Jilid 6 Juz 12 halaman 287.

# الخضر بن نصر #
===========

على بن نصر الأربلى الفقيه الِشافعي أول من درس بأربل فى سنة ثلاث و ثلاثين و خمسمائة , و كان فاضلا دينا , انتفع به الناس , و كان قد اشتغل على الكيا الهراسي و غيره ببغداد , و قدم دمشق فأرخه ابن عساكر فى هذه السنة , و ترجمه ابن خلكان فى الوفيات , و قال قبره يزار , و قد زرته غير مرة , و رأيت الناس ينتابون قبره و يتبركون به

Artinya:

"Ali bin Nasr al-Arbil, seorang ulama pakar fiqih Syafi'i adalah orang pertama yang mengajar di daerah Arbil pada tahun 533 H / 1139 M. Beliau seorang yang mempunyai keistimewaan di bidang ilmu agama. Banyak orang mengambil manfa'at dengan keilmuan beliau. Beliau sibuk sekali di al-Harasyi dan lainnya di Baghdad. Beliau mendatangi Damsyiq (sekarang Damaskus - Syria). Kemudian Ibnu 'Asakir menuliskan sejarah tentang beliau pada tahun itu juga, dan Ibnu Khulkan menterjemahkannya ke dalam kitab-kitab sejarah secara cermat. Dan dia berkata: Makam beliau suka diziarahi orang. Sesungguhnya aku (Imam Ibnu Katsir, pengarang kitab ini) pun sering menziarahinya. Aku melihat orang-orang meninggikan kuburannya dan mengambil berkah dengan menziarahinya (bukan menyembah dan meminta berkah kepada kuburan) pula".


BIOGRAFI SINGKAT PENGARANG, AL-HAFIDZ AL-IMAM IBNU KATSIR
==============================================

Nama lengkapnya Isma'il bin Umar bin Katsir al-Bashri ad-Dimasyqi. Beliau terkenal dengan nama Abu Katsir Imaduddin Abul Fida' (wafat tahun 774 H / 1374 M).

Selain itu beliau terkenal sebagai ulama Syafi'i yang ahli di bidang ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu fiqih, ilmu sejarah dll.

Kitab-kitab karangan beliau antara lain:
1. Tafsir Ibnu Katsir
2. Syarah al-Jami'us Shahih lil Bukhari (syarah Hadits Bukhari)
3. Jami'ul Masanin was Sunnah (Hadits: 8 jilid)
4. Thabaqatul 'Ulama (Sejarah Ulama-ulama)
5. Al-Fushul fii Siratil Rasul (sejarah Nabi)
6. Al-Wadhihiyun Nafis fii Manaqib Muhammad bin Idris (kitab keutamaan Imam Syafi'i)
7. Al-Ijtihad fii Thalibil Jihad (kitab yang menerangkan tentang mengerahkan perang fii sabilillah

HUKUM ZIARAH DAN TABARRUK KE MAKAM ORANG SHALEH DAN WALIYULLAH




Kitab "
Al-Bidayah wan Nihayah karya Al-Hafidz Ibnu Katsir cetakan Daar el-Fikr tahun 1978 Jilid 6 Juz 12 halaman 287.

# الخضر بن نصر #
===========

على بن نصر الأربلى الفقيه الِشافعي أول من درس بأربل فى سنة ثلاث و ثلاثين و خمسمائة , و كان فاضلا دينا , انتفع به الناس , و كان قد اشتغل على الكيا الهراسي و غيره ببغداد , و قدم دمشق فأرخه ابن عساكر فى هذه السنة , و ترجمه ابن خلكان فى الوفيات , و قال قبره يزار , و قد زرته غير مرة , و رأيت الناس ينتابون قبره و يتبركون به

Artinya:

"Ali bin Nasr al-Arbil, seorang ulama pakar fiqih Syafi'i adalah orang pertama yang mengajar di daerah Arbil pada tahun 533 H / 1139 M. Beliau seorang yang mempunyai keistimewaan di bidang ilmu agama. Banyak orang mengambil manfa'at dengan keilmuan beliau. Beliau sibuk sekali di al-Harasyi dan lainnya di Baghdad. Beliau mendatangi Damsyiq (sekarang Damaskus - Syria). Kemudian Ibnu 'Asakir menuliskan sejarah tentang beliau pada tahun itu juga, dan Ibnu Khulkan menterjemahkannya ke dalam kitab-kitab sejarah secara cermat. Dan dia berkata: Makam beliau suka diziarahi orang. Sesungguhnya aku (Imam Ibnu Katsir, pengarang kitab ini) pun sering menziarahinya. Aku melihat orang-orang meninggikan kuburannya dan mengambil berkah dengan menziarahinya (bukan menyembah dan meminta berkah kepada kuburan) pula".


BIOGRAFI SINGKAT PENGARANG, AL-HAFIDZ AL-IMAM IBNU KATSIR
==============================================


Nama lengkapnya Isma'il bin Umar bin Katsir al-Bashri ad-Dimasyqi. Beliau terkenal dengan nama Abu Katsir Imaduddin Abul Fida' (wafat tahun 774 H / 1374 M).

Selain itu beliau terkenal sebagai ulama Syafi'i yang ahli di bidang ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu fiqih, ilmu sejarah dll.

Kitab-kitab karangan beliau antara lain:
1. Tafsir Ibnu Katsir
2. Syarah al-Jami'us Shahih lil Bukhari (syarah Hadits Bukhari)
3. Jami'ul Masanin was Sunnah (Hadits: 8 jilid)
4. Thabaqatul 'Ulama (Sejarah Ulama-ulama)
5. Al-Fushul fii Siratil Rasul (sejarah Nabi)
6. Al-Wadhihiyun Nafis fii Manaqib Muhammad bin Idris (kitab keutamaan Imam Syafi'i)
7. Al-Ijtihad fii Thalibil Jihad (kitab yang menerangkan tentang mengerahkan perang fii sabilillah

Monday, 9 September 2013

HUKUM DAN FUNGSI ZIARAH KUBUR


Hukum ziarah kubur termasuk sunnah Nabi saw dan mempunyai beberapa fungsi, sebagaimana diterangkan di dalam kitab " فيض القدير شرح الجامع الصغير من أحاديث البشير النذير " (Faidul Qadir Syarhul Jami'ish Shagir min Ahaditsil Basyirin Nadzir) karya Syeikh Muhammad Abdur Ra'uf Al-Munawi jilid 4 halaman 67, cetakan Dar el-Fikar dalam menjelaskan maksud hadits: زوروا القبور فانها تذكركم لأخرة (Barziarahlah kalian ke makam-makam !. Karena, ziarah itu dapat mengingatkan kalian ke akherat: HR Abu Hurairah), yang artinya sebagai berikut:

1. Dapat mengingat mati.
2. Dapat mencegah dari perbuatan-perbuatan maksiat.
3. Dapat melemaskan hati seseorang yang mempunyai hati yang keras.
4. Dapat menghilangkan kegembiraan dunia (sehingga lupa akan kehidupan akherat).
5. Dapat meringankan musibah (bencana).
6. Dapat menolak kotoran hati.
7. Dapat mengukuhkan hati, sehingga tidak terpengaruh dari ajakan-ajakan yang dapat menimbulkan dosa.
8. Dapat merasakan bagaimana keadaan seseorang itu ketika akan menghadapi ajalnya (sakaratul maut).



Hukum Shalat di Masjid Yang Ada Kuburnya

Hadits Nabi merupakan salah satu pengetahuan yang dikategorikan sebaga "Pure Science (Ilmu Pengetahuan Murni)". Olehkarena itu, untuk mempelajari dan memahaminya kita harus mempunyai pengetahuan dasar di bidang itu dan dibantu dengan pengetahuan-pengetahuan lainnya, seperti: Ilmu Asbabul Wurud (Ilmu tentang Sebab-sebab Turunnya Hadits), dan ilmu-ilmu lainnya.


Di dalam kitab "Al-Bayan wat Ta'rif fii Asbabi Wurudil Hadits Asy-Syarif" karya Syaikh Ibrahim bin Muhammad bin Kamaluddin jilid 1 halaman 259 - 260 ada hadits Nabi berbunyi demikian:

اعلموا أن شرار الناس الذين اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد

أخرجه الامام أحمد و أبو يعلى عن أبى عبيدة بن الجراح رضي الله عنه

Artinya:
"Ketahuilah oleh kalian bahwa seburuk-buruk manusia adalah orang-orang yang menjadikan kuburan-kuburan Nabi mereka sebagai masjid.

Hadits dikeluarkan oleh Imam Ahmad dan Abu Ya'la dari Abi 'Ubaidah bin Jarah RA."

Hadits di atas jangan dipahami secara literal atau tekstual tanpa mengetahui asbabul wurudnya ! Karena, kalau kita tidak tahu asbabul wurud atau latar belakang turunnya hadits tersebut, sudah barangtentu kita akan salah dalam memahami hadits di atas dan pasti kita beranggapan bahkan memberi hukuman haram dan tidak sah shalat di masjid yang ada kuburannya, meskipun berada di samping masjid. Anggapan tersebut tidaklah benar. Karena, maksud hadits tersebut tidaklah demikian. Hal itu bisa dibuktikan dengan mengetahui asbabul wurud atau latar belakang turunnya hadits tersebut, sebagaimana diterangkan oleh pengarang kitab 'Al-Jami'ul Kabir, beliau berkata:

أخرجوا يهود أهل الحجاز و أهل نجران من جزيرة العرب و اعلموا أن شرار الناس فذكره

Artinya:
" Usirlah Yahudi penduduk tanah Hijaz dan penduduk tanah Najran dari Jazirah Arab !. Dan ketahuilah bahwa seburuk-buruk manusia adalah apa yang disebutkan beliau dalam hadits tersebut".

Meninjau sebab turunnya hadits di atas, Nabi SAW menyuruh sahabat-sahabat beliau untuk mengusir orang-orang Yahudi penduduk tanah Hijaz dan tanah Najran, yang suka menyembah kuburan-kuburan Nabi-nabi mereka yang dijadikan sebagai masjid, dari wilayah Jazirah Arab. Sebab, kalau dibiarkan saja dikuatirkan akan mempengaruhi dan membahayakan bagi penduduk setempat yang telah menganut agama Islam. Atas dasar itu, maka boleh hukumnya shalat di masjid yang ada kuburannya. Karena, shalat di masjid yang ada kuburannya, misalnya di samping masjid, bukan berarti kita shalat menyembah kuburan. Tapi, kita semata-mata shalat hanya untuk menyembah Allah swt.


Di dalam kitab "Jawahirul Bihar" jilid 2 juz 4 halaman 184, karya Syeikh Yusuf bin Isma'il an-Nabhani, cetakan "Al-Halabi" Mesir diterangkan pula bahwa hadits Nabi tersebut di atas Nabi saw melarang agama Yahudi dan Nashrani menetap di tanah Arab. Begitu hadits Nabi saw yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dari Abi 'Ubaidah bin al-Jarrah.

Di dalam kitab "Jawahirul Bihar" pada jilid dan halaman yang sama diterangkan bahwa boleh hukumnya shalat di samping kuburan para Nabi karena mengagungkan kepada mereka, bukan mengagungkan (menyembah) seperti apa yang dilakukan oleh Yahudi dan Nashrani terhadap Nabi-nabi mereka.

Lihat pula di kitab "Umdatul Qari Syarah Shohih Al-Bukhori (12 jilid besar / 25 juz) karya Imam Badruddin Abu Muhammad Mahmud bin Ahmad Al-'Aini jilid 2 juz 4 halaman 173-174 !

HUKUM SHALAT DI MASJID YANG ADA KUBURANNYA

Hadits Nabi merupakan salah satu pengetahuan yang dikategorikan sebaga "Pure Science (Ilmu Pengetahuan Murni)". Olehkarena itu, untuk mempelajari dan memahaminya kita harus mempunyai pengetahuan dasar di bidang itu dan dibantu dengan pengetahuan-pengetahuan lainnya, seperti: Ilmu Asbabul Wurud (Ilmu tentang Sebab-sebab Turunnya Hadits), dan ilmu-ilmu lainnya.


Di dalam kitab "Al-Bayan wat Ta'rif fii Asbabi Wurudil Hadits Asy-Syarif" karya Syaikh Ibrahim bin Muhammad bin Kamaluddin jilid 1 halaman 259 - 260 ada hadits Nabi berbunyi demikian:

اعلموا أن شرار الناس الذين اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد

أخرجه الامام أحمد و أبو يعلى عن أبى عبيدة بن الجراح رضي الله عنه

Artinya:
"Ketahuilah oleh kalian bahwa seburuk-buruk manusia adalah orang-orang yang menjadikan kuburan-kuburan Nabi mereka sebagai masjid.

Hukum Memainkan Rebana




Boleh hukumnya memainkan rebana (dan diiringi dengan pembacaan shalawat) meskipun di dalam masjid, misalnya untuk kepentingan acara pernikahan. Hal itu diterangkan di dalam kitab:

1. Al-Fatawi al-Kubra al-Fiqhiyyah, karya Imam Ibnu Hajar al-Haitami, jilid 4 halaman 356, cetakan "Darul Fikr" Beirut Libanon dengan keterangan sebagai berikut:

وفي الترمذي وسنن ابن ماجه عن عائشة - رضي الله تعالى عنها - أن النبي - صلى الله عليه وسلم - قال «أعلنوا هذا النكاح وافعلوه في المساجد واضربوا عليه بالدف» وفيه إيماء 
إلى جواز ضرب الدف في المساجد لأجل ذلك فعلى تسليمه يقاس به غيره

Artinya:
"Dan di dalam kitab hadits "At-Tirmidzi" dan "Sunan Ibnu Majah" dari Aisyah, semoga Allah ta'ala meridhoinya !, bahwa Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: Siarkanlah pernikahan ini dan lakukanlah di masjid-masjid, dan mainkanlah dengan rebana ! Di dalam hadits tersebut merupakan isyarat akan dibolehkannya memainkan rebana di masjid-masjid karena acara resepsi pernikahan. Dengan demikian atas ketaslimannya (menerima hukum dibolehkannya memainkan rebana), maka dengan itu diqiyaskan atau dianalogikan kepada memainkan rebana selain untuk acara resepsi pernikahan."


2. Sunan Ibnu Majah, jilid 1 halaman 611, cetakan "Darul Fikr" Beirut Libanon dengan keterangan sebagai berikut:

حدثنا نصر بن علي الجهضمي و الخليل بن عمرو . قال : حدثنا عيسى ابن يونس , عن خالد بن الياس , عن ربيعة بن أبي عبد الرحمن , عن القاسم , عن عائشة , عن النبي صلى الله عليه و سلم قال: أعلنوا هذا النكاح , و اضربوا عليه بالغربال

Artinya:
=====
"Telah menceritakan kepada kami Nashr bin al-Jahdhomi dan Kholil bin Amr, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Isya ibnu Yunus, dari Kholid bin Ilyas, dari Robi'ah bin Abi Abdurrahman, dari al-Qasim, dari Aisyah, dari Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: Dan siarkanlah pernikahan ini dan mainkanlah rebana !"
د

3. Sunan at-Tirmidzi, jilid 2 halaman 276, cetakan "Darul Fikr" Beirut Libanon dengan keterangan sebagai berikut:

حدثنا أحمد بن منيع . أخبرنا يزيد بن هارون . أخبرنا عيسى بن ميمون عن القاسم بن محمد , عن عائشة قالت : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : أعلنوا هذا النكاح و اجعلوه فى المساجد , و اضربوا عليه بالدفوف . هذا حديث حسن غريب فى هذا الباب

Artinya:
=====
"Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Mani'. Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun. Telah menceritakan kepada kami Isya bin Maimun dari al-Qasim bin Muhammad, dari Aisyah beliau berkata: Rasulullah saw bersabda: Siarkanlah pernikahan ini dan lakukanlah di masjid-masjid, dan mainkanlah dengan rebana ! Ini Hadits Hasan Gharib di dalam Bab ini."





HUKUM MEMAINKAN REBANA




Boleh hukumnya memainkan rebana (dan diiringi dengan pembacaan shalawat) meskipun di dalam masjid, misalnya untuk kepentingan acara pernikahan. Hal itu diterangkan di dalam kitab:

1. Al-Fatawi al-Kubra al-Fiqhiyyah, karya Imam Ibnu Hajar al-Haitami, jilid 4 halaman 356, cetakan "Darul Fikr" Beirut Libanon dengan keterangan sebagai berikut:

وفي الترمذي وسنن ابن ماجه عن عائشة - رضي الله تعالى عنها - أن النبي - صلى الله عليه وسلم - قال «أعلنوا هذا النكاح وافعلوه في المساجد واضربوا عليه بالدف» وفيه إيماء 
إلى جواز ضرب الدف في المساجد لأجل ذلك فعلى تسليمه يقاس به غيره

Artinya:
"Dan di dalam kitab hadits "At-Tirmidzi" dan "Sunan Ibnu Majah" dari Aisyah, semoga Allah ta'ala meridhoinya !, bahwa Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: Siarkanlah pernikahan ini dan lakukanlah di masjid-masjid, dan mainkanlah dengan rebana ! Di dalam hadits tersebut merupakan isyarat akan dibolehkannya memainkan rebana di masjid-masjid karena acara resepsi pernikahan. Dengan demikian atas ketaslimannya (menerima hukum dibolehkannya memainkan rebana), maka dengan itu diqiyaskan atau dianalogikan kepada memainkan rebana selain untuk acara resepsi pernikahan."


2. Sunan Ibnu Majah, jilid 1 halaman 611, cetakan "Darul Fikr" Beirut Libanon dengan keterangan sebagai berikut:

حدثنا نصر بن علي الجهضمي و الخليل بن عمرو . قال : حدثنا عيسى ابن يونس , عن خالد بن الياس , عن ربيعة بن أبي عبد الرحمن , عن القاسم , عن عائشة , عن النبي صلى الله عليه و سلم قال: أعلنوا هذا النكاح , و اضربوا عليه بالغربال

Artinya:
=====
"Telah menceritakan kepada kami Nashr bin al-Jahdhomi dan Kholil bin Amr, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Isya ibnu Yunus, dari Kholid bin Ilyas, dari Robi'ah bin Abi Abdurrahman, dari al-Qasim, dari Aisyah, dari Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: Dan siarkanlah pernikahan ini dan mainkanlah rebana !"
د

3. Sunan at-Tirmidzi, jilid 2 halaman 276, cetakan "Darul Fikr" Beirut Libanon dengan keterangan sebagai berikut:

حدثنا أحمد بن منيع . أخبرنا يزيد بن هارون . أخبرنا عيسى بن ميمون عن القاسم بن محمد , عن عائشة قالت : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : أعلنوا هذا النكاح و اجعلوه فى المساجد , و اضربوا عليه بالدفوف . هذا حديث حسن غريب فى هذا الباب

Artinya:
=====
"Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Mani'. Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun. Telah menceritakan kepada kami Isya bin Maimun dari al-Qasim bin Muhammad, dari Aisyah beliau berkata: Rasulullah saw bersabda: Siarkanlah pernikahan ini dan lakukanlah di masjid-masjid, dan mainkanlah dengan rebana ! Ini Hadits Hasan Gharib di dalam Bab ini."





Puasa Sepanjang Tahun (صوم الدهر) Hukumnya Sunnah


{Keterangan diambil dari kitab 'Umdatul Qari Syarah Shohih al-Bukhari pada jilid 6 juz 11 halaman 90, cetakan "Darul Fikr, Beirut - Libanon}.

Menurut jumhur ulama madzhab Syafi'i puasa sepanjang tahun atau "shaum ad-dahri" (kecuali lima hari yang diharamkan puasa, yaitu: Hari Raya Idhul Fitri, Hari Raya Idhul Adha, dan tiga hari tayriq tanggal 11-13 Dzul-Hijjah) hukumnya boleh bahkan disunnahkan berdasarkan hadits Nabi saw:

من صام الدهر ضيقت عليه جهنم هكذا و ضم أصابعه على تسعين

Artinya:

"Barangsiapa menjalankan puasa sepanjang tahun, maka akan disempitkan atasnya neraka jahannam seperti ini. Dan, beliau mengumpulkan jari-jari tangannya membentuk angka 90."

Puasa sepanjang tahun ini dilakukan oleh sahabat-sahabat Nabi saw seperti Sayyidina Umar bin al-Khatthab dan puteranya, Abdullah bin Umar, Aisyah (isteri Nabi saw, Abu Thalhah, dan Abu Umamah.








Di dalam kitab "Al-Ghunyah" karya Syeikh Abdul Qadir Jailani Al-Hasani halaman 75 cetakan Al-Maktabah As-Sya'biyyah diterangkan sebagai berikut:

أخبرنا أبو نصر عن والده, قال حدثنا أبو الحسن على بن أحمد المقرى, قال حدثنا الحسن بن سهيل , قال حدثنا يحيى , قال حدثنا ابراهيم بن أبى نجا عن صفوان بن سليم , عن علقمة بن أبى علقمة , عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : أفضل الصيام صيام داود , و من صام الدهر كله فقد وهب نفسه لله تعالى . و عن أبى موسى الأشعرى رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه و سلم قال : من صام الدهر ضيقت عليه جهنم هكذا , و عقد تسعين . و عن شعيب عن سعد بن ابراهيم قال : كانت عائشة رضي الله عنها تصوم الدهر . و عن يعقوب قال حدثنا أبى , قال : سرد سعد رضي الله عنه الصوم قبل أن يموت أربعين سنة . و عن أبى ادريس عائذ الله قال : صام أبو مسى الأشعرى رضي الله عنه حتى صار كأنه خلال , قال : فقلت يا أبا موسى لو أجمت نفسك؟ فقال: اجمامها اريد السائق من الخيل المضمرة . و عن أبى اسحاق ابن ابراهيم قال : حدثنى عمار ال الراهب قال : رأيت سكينة الظفارية فى منامى , و كانت تخضر معنا مجلس عيسى بن زاذان بالأبلة , تنحدر من البصرة حتى تأتيه قاصدة , قال عمار : فقلت لها يا سكينة ما فعل عيسى؟ فضحكت ثم قالت : قد كسى حلة البهاء و طافت بأباريق حوله الخدم , ثم حلى . و قيل : يا قارئ أرق فلعمرى لقد براك الصيام , و كان عيسى قد صام حتى انحنى و انقطع صوته . و عن أنس رضي الله عنه قال : كان أبو طلحة رضي الله عنه لا يصوم على عهد رسول الله صلى الله عليه و سلم من أجل الغزو , فلما مات رسول الله صلى الله عليه و سلم لم أره مفطرا الا يوم الفطر و يوم النحر . و عن أبى بكر بن عبد الرحمن بن الحرث بن هشام قال : حدثنى من رأى رسول الله صلى الله عليه و سلم فى يوم صائف يصب على رأسه الماء من شدة الحر و العطش و هو صائم . و عن سفيان عن أبى اسحاق عن الحرث عن على رضي الله عنه قال : كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يصوم يوما و يفطر يوما . و ما نقل فى حديث جابر رضي الله عنه قال : ان النبى صلى الله عليه و سلم لما سئله عمر رضي الله عنه : يا نبي الله أخبرنى عن رجل يصوم الدهر كله؟ قال صلى الله عليه و سلم : لا صام ذلك و لا أفطر . فمحمول على رجل صام الدهر و لم يفطر يزمى العيدين و أيام التشريق , و كذا قال الامام أحمد بن حنبل رحمه الله , و أما اذا أفطر هذه الأيام و صام بقية السنة فلا نهي فى حقه , بل له ما ذكرنا من الفضائل

Artinya:
"Telah mengkabarkan kepada kami Abu Nasr dari ayahnya, telah menceritakan kepada kami Abul Hasan Ali bin Ahmad Al-Muqri, telah menceritakan kepada kami Ibrahim Ibnu Ahmad Al-Qarmini, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin Suhail, telah menceritakan kepada kami Yahya, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Abi Naja dari Sofwan bin Sulaim, dari 'Alqamah bin Abi 'Alqamah, dari Umar bin Khattob radiallahu 'anhu telah berkata: Telah berkata Rasulullah saw: Seutama-utamanya puasa ialah puasa Daud, dan barangsiapa puasa sepanjang tahun, maka sesungguhnya ia telah menghibahkan dirinya untuk Allah ta'ala. Dan dari Abu Musa Al-Asy'ari radiallahu 'anhu dari Nabi saw telah berkata: Barangsiapa berpuasa sepanjang tahun, maka disempitkan atasnya neraka jahannam seperti lamanya tahunan puasa, dan selama sembilan puluh tahun.

Dari Syu'aib dari Sa'ad bin Ibrahim telah berkata: Adalah A'isyah radiallahu 'anha berpuasa sepanjang tahun.

Dan dari Ya'kub telah berkata, telah menceritakan kepada kami, dia berkata: Sa'ad radiallahu 'anhu telah berturut-turut melakukan puasa (puasa sepanjang tahun terkecuali dua hari raya Idhul Fitri, Idhul Adha, dan 3 hari tasyriq) sebelum dia meninggal selama empat puluh tahun.

Dari Idris 'A'idzullah telah berkata: Telah berpuasa sepanjang tahun Abu Musa Al-Asy'ari radiallahu 'anhu sehingga badannya jadi seperti sebuah cungkil gigi (kurus). Dia (Idris) berkata: Maka aku berkata ya Abu Musa ! Apakah puasa sepanjang tahun yang kau lakukan itu menjadi lemah hawa nafsumu?. Jawab Abu Musa: Ya, menjadi lemah. Aku inginkan sesungguhnya aku melihat seorang pengembala sedang mengembala seekor keledai yang sangat kurus.

Abi Ishaq Ibnu Ibrahim telah berkata: Telah menceritakan kepada saya Ammar Ar-Rahib, dia berkata: Aku melihat Sakinah adz-Dzafariyyah dalam mimpiku. Dia hadir bersamaku di majelis Isa bin Zadzan di Ablah. Dia menempuh perjalanan dari Bashrah. Ammar berkata: Aku bertanya kepada Sakinah, hai Sakinah ! Apa yang dilakukan oleh Isa?. Dia menjawab sambil tertawa: Dia telah memakai perhiasan bagus dan dikelilingi oleh para pelayan yang membawa kendi-kendi. Kemudian mereka menghiasinya.

Ada sebuah keterangan dari ulama: Hai pembaca Al-Qur'an ! Lembutkanlah suaramu ! Maka demi umurku, sesungguhnya puasa itu dapat melemahkan hawa nafsumu.

Sesungguhnya Isa melakukan puasa sepanjang tahun hingga suaranya samar (hampir tak terdengar) dan terputus-putus.

Dari Anas radiallahu 'anhu telah berkata: Abu Thalhah tidak melakukan puasa sepanjang tahun di zaman Rasulullah dikarenakan suka ikut berperang. Namun ketika Rasulullah saw wafat, aku tidak pernah melihatnya berbuka puasa terkecuali pada hari raya Idhul Fitri, Idhul Adha, dan hari Tasyriq.

Dari Abu Bakar bin Abdurrahman bin Harits bin Hisyam telah berkata: Telah menceritakan kepadaku orang yang melihat Rasulullah saw pada musim kemarau bahwa beliau membasuh kepalanya dengan air, karena udara sangat panas dan haus, sedangkan beliau sedang puasa.

Dari Sufyan dari Abu Ishaq dari Harits dari Ali radiallahu 'anhu telah berkata: Rasulullah saw puasa sehari dan buka puasa sehari.

Ada sebuah hadits yang diambil dari hadits Jabir radiallahu 'anhu, dia berkata: Sesungguhnya Nabi bersabda ketika Umar radiallahu 'anhu bertanya kepada beliau: Wahai Nabi Allah ! Beritahukan kepadaku tentang tentang seorang laki-laki yang berpuasa sepanjang tahun?. Jawab Rasulullah saw: Dia tidak berpuasa seperti itu dan juga tidak berbuka. Hadits Nabi tersebut ditujukan kepada orang yang berpuasa sepanjang tahun dan tidak berbuka puasa pada hari raya Idhul Fitri, Idhul Adha, dan hari-hari Tasyriq (tanggal 11, 12, dan 13 Dzul-Hijjah).

Demikian pula telah berkata Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah: Adapun apabila seseorang berbuka puasa pada hari-hari ini (hari raya Idhul Fitri, Idhul Adha, dan 3 hari Tasyriq) dan dia berpuasa pada hari-hari sisanya, maka tidak ada larangan di dalam haknya. Bahkan dia mendapatkan berbagai macam keutamaan sebagaimana yang kami sebutkan.

* Kami menambahkan dari komentar2 yang diberikan oleh Kyai dalam fesbuknya ::

Pembahasan puasa sepanjang juga ditulis dalam kitab :

=> kitab hadits Shohih Al-Bukhori yang bernama "Irsyadus Sari" yang hilang di pasaran karya Imam Abul Abbas Syihabuddin Ahmad bin Muhammad A-Qasthalani, cetakan "Dar el-Fikr" tahun 1989 M / 1410 H



=> kitab "Tuhfatul Ahwadzi Syarah Hadits Jami'ut Tirmidzi" jilid 3 halaman 475-47 


Di antara sahabat-sahabat Nabi saw yang suka melakukan puasa sepanjang tahun adalah Umar bin Khattab RA, Abdullah bin Umar (putera Umar bin Khattab), Siti 'Aisyah (isteri Nabi saw), Abu Thalhah, dan Abu Umamah.

(Keterangan dari kitab "Umdatul Qari Syarah Shahih al-Bukhari jilid 6 juz 11 halaman 90, karya Al-Imam Badruddin al-'Aini, cetakan "Darul Fikr", Beirut Libanon).


Di antara pengamal "Shaum ad-Dahri" adalah Tsabit al-Bantani. Selain itu, beliau tidak tidur di waktu malam hari dan sibuk mengerjakan shalat malam selama 50 tahun. Juga setiap hari belaiu khatam al-Qur'an. Keterangan diambil dari kitab "Sifat ash-Shafwah, karya Ibnu al-Jauzi, jilid 2 halaman 148, cetakan "Darul Fikr", Beirut - Libanon.

Syeikh Nawawi al-Bantani mengamalkan "Shaum ad-Dahri" dimulai sejak kecil hingga menjelang wafatnya. Demikian pula, guru saya, Abuya Dimyathi (Mbah Dim) Banten mengamalkan "Shaum ad-Dahri" dimulai sejak berumur sekitar 10 tahun hingga menjelang wafatnya, yaitu kira2 selama 70 tahun.

PUASA SEPANJANG TAHUN (صوم الدهر) HUKUMNYA SUNNAH


{Keterangan diambil dari kitab 'Umdatul Qari Syarah Shohih al-Bukhari pada jilid 6 juz 11 halaman 90, cetakan "Darul Fikr, Beirut - Libanon}.

Menurut jumhur ulama madzhab Syafi'i puasa sepanjang tahun atau "shaum ad-dahri" (kecuali lima hari yang diharamkan puasa, yaitu: Hari Raya Idhul Fitri, Hari Raya Idhul Adha, dan tiga hari tayriq tanggal 11-13 Dzul-Hijjah) hukumnya boleh bahkan disunnahkan berdasarkan hadits Nabi saw:

من صام الدهر ضيقت عليه جهنم هكذا و ضم أصابعه على تسعين

Artinya:

"Barangsiapa menjalankan puasa sepanjang tahun, maka akan disempitkan atasnya neraka jahannam seperti ini. Dan, beliau mengumpulkan jari-jari tangannya membentuk angka 90."

Puasa sepanjang tahun ini dilakukan oleh sahabat-sahabat Nabi saw seperti Sayyidina Umar bin al-Khatthab dan puteranya, Abdullah bin Umar, Aisyah (isteri Nabi saw, Abu Thalhah, dan Abu Umamah.






ABDULLAH BIN UMAR SHALAT DI KUBURAN



{Kitab “Tanbihul Mughtarrin”, karya Syaihul Islam asy-Syeikh Abdul Wahab asy-Sya’roni halamann 103, cetakan “Darul Kutub al-Islamiyyah”, Kalibata –Jakarta Selatan}

و قد مر عبد الله بن عمر رضي الله عنهما يوما على مقبرة , ففرش رداءه و صلى ركعتين هناك , فقيل له فى ذلك , فقال : ذكرت أهل القبور و قد حيل بينهم و بين العبادة , فأحببت أن أتقرب الى الله تعالى بركعتين بينهم 

Artinya:
=====

Pada suatu hari Abdullah bin Umar melewati sebuah kuburan. Kemudian, beliau menghamparkan selendangnya dan shalat di sana. Dikatakan dalam suatu riwayat beliau berkata: Aku ingat kepada para penghuni kuburan dan sesungguhnya bisa dijadikan rekayasa di antara mereka dan ibadah. Aku senang mendekatkat diri kepada Allah ta’ala dengan melaksanakan shalat di antara kuburan-kuburan mereka.